Malam itu, seperti biasa Makassar dipenuhi sesak oleh kepulan asap kendaraan, penyebab rusaknya paru-paru bumi dan manusia. Disinari cahaya lampu mobil dan ditemani teriakkan lagu klaksonnya, langkahku yang sejajar trotoar menuju sebuah tempat penyambung hidup…
tempat itu tak bernama, hanya terpampang tulisan Coto : Rp 5.000.
Yah, warung Coto kesukaan yang berada dekat kostku itu, bagiku adalah penyambung hidupku yang lapar…
…
Terbaring disebuah kamar, aku terjaga karna terkejut oleh suara dentuman besar yang nampak membuat dinding kamarku Retak…
tak ada yang kukenal dalam kamar ini, semua asing. Ku pun lari keluar melihat apa yang terjadi.
Astagfirullah…
tak ada bangunan yang berdiri kokoh, semua nampak miring dan roboh. Dibawahnya penuh taburan Mayat.
Seruan Takbir menggelegar…
Orang-orang meratapi mayat yang berhamburan…
Apa yang terjadi..???
Dimana Aku..?? kucoba bertanya pada Pemuda berjenggot,,, dia melihatku aneh dan mengucapkan bahasa yang tak kumengerti… “Ma fahimtu madza taqul”, jawabnya.
Hingga seorang Laki2 berompi menyeretku berlari bersamanya,,, “cepat, tak ada tempat yang aman disini, disini bukan tugasmu…” jawabnya sambil berlari tanpa menolehku. Dibelakang rompi kremnya tertulis ‘TEAM MEDIC INDONESIA’ dan sebuah tulisan “Save PALESTINE” dibawahnya…
kupercepat lariku mengejarnya…
Sampailah kami di sebuah gedung yang nampak seperti rumahsakit,, Cukup banyak tulisan yang terpampang dengan besarnya, tapi tak ada satupun yang dapat kumengerti. Semua tulisan itu nampak seperti Tulisan dalam Quran tetapi bedanya tak punya tanda baca satupun…
Penuh tanya dalam hati, tapi satupun tak terucap karena tak ada waktu,, semua berpacu melawan waktu u/ menolong korban reruntuhan yang bukan disebabkan bencana alam akibat rusaknya lingkungan alam, melainkan rusaknya perilaku anak adam karena salah memilih Aqidah..
Sambil mendorong sebuah kereta pasien aku mulai menyadari dimana aku… Perlahan kumengerti tempat ini adalah sebuah Rumahsakit di Gaza, daerah ekspansi kaum Zionis yang berbatasan dengan Mesir, yang hari ini mulai dibombardir seiring berlalunya perjanjian genjatan senjata selam enam bulan.
Contoh Pelanggaran HAM yang nyata dan didepan mata, tetapi dewan HAM Perserikatan Bangsa Bangsa seolah membutakan matanya dan menganggapnya mimpi…
Siapakah TERORIS sebenarnya???
Di kiri dan kananku penuh dengan ratapan tangisan hati dan takbir…
Tangisan kepedihan terkena peluru, tangisan kepedihan hati ditinggal orang-orang yang dicintai, tangisan balita yang bukan karena tak dapat susu atau kurang gizi tapi tangisan luapan sakit terkena serpihan bom, tangisan seorang Ummi yang diiringi doa pada jasad anaknya yang tak lagi bernyawa, tangisan seorang laki-laki kekar dengan bibir beristigafar kepada sauadaranya tercinta, bahkan tangisan yang tak tak jelas tertuju pada siapa-siapa…
Batinku pun teriris melihat semua begitu nyata didepan mata…
Anehnya… sosok Lelaki Muda yang berdiri disudut taman rumahsakit, terlihat tertawa dengan lepasnya, namun matanya basah dengan airmata…
“Jiwanya tergoncang,,, Dia kehilangan semua keluaraganya,,, tak ada yang tersisa satupun,,, ayah dan ibunya, kakak-adiknya, semua keluarganya tewas dalam reruntuhan rumahnya… sama dengan kita, yang nantinya juga akan tak punya ayah, ibu dan saudara.. hanya saja, milik kita diambil-Nya satu persatu, tidak sekaligus seperti dia,,, dan kalau itu terjadi padaku , akupun bisa gila…” jelas dokter Ibrahim padaku…
…
Akupun terjaga kedua kalinya dari tidurku… tetapi kali ini aku mengenal semua isi kamarnya,, semuanya adalah isi kamar kostku, disampingnya terdapat sebungkus coto yang belum terbuka… juga kali ini aku terjaga bukan karena suara dentuman, melainkan sebuah laporan berita di TVone yang mengabarkan bahwa sebuah rumahsakit di Gaza juga dileadakkan oleh israel Laknatullah…
…
