Pengumpan:
Tulisan
Komentar

tiba-tiba tak ada kabar..  sedikitpun.. padahal hari sebelumnya, lebih dari 10 pesan telah masuk di inbox hingga lambang mesages mati-idup dibuatnya, pertanda kotak masukku tak lagi mampu menampung pesan..

lewat seminggu sudah,, sms dan telpon tak digubrisnya.. semua seolah-olah nomor asing yang tak dikenalnya..

kembali merenungkan kesalahan apa yang aku telah kulakukan padanya.. seingatku, hanya ada masalah sepeleh dengannya.. ketika ia ku tegur karna ingkar terhadap takdirnya.. itupun sudah aku closing dengan ucapan maaf..

masih dalam perenungan, kupaksa kepala ini mengingatnya baik-baik.. seingatku lagi, sebelumnya ia sempat menyuruhku menelpon keluargaku untuk mengabari bahwa aku sakit dan memintaku istrahat..

hmm,, akhirnya,, setelah 2 minggu berlalu sbuah pesan masuk.. berkata isi pesan “maaf,, everything is oke.. tidak ada yg marah.. hanya enggan berdebat”
pesan lekas kubalas dengan sbuah pertanyaan.. dan skali lagi dia menghilang ditelan aktivitasnya yang seolah-olah seorang ibu pejabat beneran..

satu ketika, sebuah syair motivasi menyadarkanku dari perenunganku,,

Berhati-hatilah dengan perasaan pria
yang sedang mendekati seorang wanita..
yang dikiranya memiliki kualitas pribadi
yang akan menjadi belahan jiwanya,
menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya.

Pada masa awal itu,
pria biasanya mudah goyah rasa kemapanannya,
mudah minder dan tersinggung.

Sehingga,
Berlaku genit dan mesra kepada banyak pria, akan membuatnya cemburu,
dan bereaksi tajam menjauhkan diri. (MT)
….

seolah-olah kali ini pesan itu turun langsung dari langit sebagai pertanda Tuhan Yang Maha Penyayang tak tega melihatku dalam kebingungan.. syair itu membukakan mataku dan menyadarkanku bahwa ada kesalahan fatal yang kulakukan dulu..  yah,, aku ingat, jelas sekrang,  aku jalan bersama orang lain yang juga dikenalnya.. meski tak dilihatnya tapi dia mendengar itu.. dan dia percaya itu karna aku mengakuinya..

oh.. GoD betapa aku khilaf dan lama menyadari hal itu..

Syair itu menjelaskan dengan sangat rinci perilaku seorang pria terhadap wanita yang telah dianggapnya sempurna sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, yang manghilang karna perilaku genit si wanita.. dan bukankah, hal itu pula berlaku bagi wanita,, yang jika telah menganggap seorang pria yang bla bla bla dan bla bla bla… aku tak mampu meneruskanya..

segera ku kirim sebuah pesan,, agar dia mau menegur dan mengucapkan kesalahanku tersebut.. padahal, mana ada wanita yang mau dikatakan marah karna cemburu.. lagi lagi aku melakukan kesalahn bodoh.. dan sekali lagi, aku tak digubrisnya..

tepat sembilan hari kemudian, aku coba mengirimkan pesan lagi.. tapi kali ini, ku awali dengan kalimat,, aku menyerah dan bercerita banyak hal dipesan itu,, hingga tak sadar aku kalo itu sudah 6 halaman…  dipesan itu intinya, aku lelah dan mau berhenti saja dari semua hal yang penuh ketidakjelasan  ini.. (sifat nmor 5 ku yang susah hilang,,, aku sejak dulu lebih suka mundur dan lari dari masalah hati daripada menghadapinya, atau terus memotiviasi untuk bergerak menghadapi itu…)

tapi, ternyata diluar dugaanku pesan itu berbuah hasil.. yah,, pesan itu terbalas,, yah, pesan 6 halamanku itu tidak sia-sia kubaca berulang-ulang dan ku cermati kata demi katanya agar tidak menyakiti pembacanya kelak..  dan setelah kubuka balasan pesan itu dengan berdebar debar,, seketika isi pesan darinya itu meredakan luapan kegembiraanku.. yah bagaimana tidak, dia hanya menuliskan tak lebih 10 kata, dan itu tertulis rapi seperti ini, “maaf, aku tak bisa menemukan maksud pesan ini”

Bersambung…

 

Catatan,,, kata yang terlintas tidak asing saat kita mendengarnya.  Yah,, rutinitas yang sebagian mahasiswa menganggap itu adalah ritual si kutu buku yang wajib dilaksanakan sebelum, saat dan usai perkuliahan, ato mnurut sebagian lagi adalah kerjaan si yang tak punya muka sehingga didepan dosen selalalu cari muka dengan mencatat biar dikatakan rajin, ato juga dianggap oleh sebagian orang sebagai kerjaan si bodoh yang lambat dan tak mampu menyerap seketika dan menyimpan lebih lama penjelasan dari orang lain..

Apapun tanggapannya dan penilaian kita tentang  ”Catatan” satu yang pasti kita semua  melakukannya sejak lahir hingga saat kita tidur dalam tanah kelak. Namun, tanpa disadari dari sepanjang detik yang berdetak, tidak sedikit dari kita yang kehilangan catatan penting karena kita lupa menyimpanya atau mungkin kita lupa mencatatnya. Dan hal ini berarti kita telah menghilangkan sebuah sejarah yang harusnya mampu menjadi pelajaran bagi kehidupan kita mendatang juga bagi generasi yang akan datang.

Sehari sebelumnya,  berita menyampaikan sebuah berita basi negeri ini yaitu tentang korupsi yang lagi lagi pelakunya berhasil kabur keluar negeri. Penegak Hukum melakukan lagi kesalahan yang sama, gagal mencekal para koruptor ke negeri yang tak memiliki perjanjian ekstradisi. Penegak hukum kehilangan catatan kriminal dan catatan strategi untuk mencegah  pelaku koruptor yang sebelumnya telah menapaki hal yang sama atau mungkin catatan itu tak pernah ada alias lupa dicatatat atawa bisa jadi juga hal itu dibuat lupa oleh penegak hukum karna uang dan kekuasaan itu membuat mereka melupakan segalanya termasuk kata Tuhan dihatinya. Ah, kita anggap saja itu lupa dicatat, kita berprasangka baiklah, walapun itu jelas jelas buruk, dan semoga kali ini tak lupa dicatat lagi. .

Tiga hari sebelumnya, email baru yang dibuat Uli, tak bisa dibukanya. Dia lupa rangkaian huruf namanya yang katanya sempat di “improve” untuk kepentingan gaya tulis. Intinya, dia tak punya catatan tentang itu, entah karna dia lupa mencatatnya atau memang enggan mencatat itu.

lima hari sebelumnya, aku benar benar berhenti berharap kembalinya dompetku, setelah ingat dalam dompetku yang hilang tak ada satupun nomor telpon yang bisa dihubungi oleh penemunya untuk mencari tahu pemiliknya. Aku lupa mencatat itu dan memasukannya dalam dompet.

Entahlah, kita akan memaknai “catatan” dengan contoh yang seperti apapun itu, tapi jelasnya karna tak ada yang abadi selain dari sebuah catatan yang mampu menceritakan kembali kejadian ratusan tahun silam karna mulut kita terkatup oleh usia dan catatan yang mampu mengenang kisah indah dan pilu karna memori kepala kita terbatas kata lupa.

Proses Keimanan

Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah akidah yang benar terhadap alam dan kehidupan, karena akhlak tersarikan dari akidah dan pancaran dirinya. Oleh karena itu, jika seseorang berakidah dengan benar, niscaya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika akidah salah dan melenceng maka akhlaknya pun akan tidak benar.

Akidah seseorang akan benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinannya terhadap Allah juga lurus dan benar. Karena barang siapa mengetahui Sang Penciptanya dengan benar, niscaya ia akan dengan mudah berperilaku baik sebagaimana perintah Allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh atau bahkan meninggalkan perilaku-perilaku yang telah ditetapkan-Nya.

Adapun yang dapat menyempurnakan akidah yang benar terhadap Allah adalah berakidah dengan benar terhadap malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada para Rasul dan percaya kepada Rasul-rasul utusan-Nya yang mempunyai sifat jujur dan amanah dalam menyampaikan risalah Tuhan Mereka. Keyakinan terhadap Allah, Malaikat, Kitab, dan para Rasul-rasul-Nya berserta syariat yang mereka bawa tidak akan dapat mencapai kesempurnaan kecuali jika disertai dengan keyakinan akan adanya hari Ahkir dan kejadian-kejadian yang menggiringnya seperti hari kebangkitan, pengmpulan, perhitungan amal dan pembalasan bagi yang taat serta yang durhaka dengan masuk surga atau masuk neraka. Intinya, akidah seorang muslim adalah beriman pada semua Rukun Iman.

Di samping itu, akidah yang benar kepada Allah harus diikuti pula dengan akidah atau kepercayaan yang benar terhadap kekuatan jahat dan setan. Merekalah yang mendorong manusia untuk durhaka kepada Tuhannya. Mereka menghiasi manusia dengan kebatilan dan syahwat. Merekalah yang merusak hubungan baik yang telah terjalin di antara sesamanya. Demikianlah tugas –tugas setan sesuai dengan yang telah digariskan Allah dalam penciptaannya, agar dia dapat memberikan pahala kepada orang-orang yang tidak mengikuti setan dan menyiksa orang yang menaatinya. Dan semua ini berlaku setelah Allah memerpingatkan umat manusia dan mengancam siapa saja yang mematuhinya setan tersebut.

Pendidikan akhlak yang bersumber dari kaidah yang benar merupakan contoh perilaku yang harus diikuti oleh manusia. Mereka harus mempraktikannya dalam kehidupan mereka, karena hanya inilah yang akan mengantarkan mereka mendapatkan ridha Allah dan akan membawa mereka mendapatkan balasan kebaikan dari Allah. Ketidakberesan dan adanya keresahan yang selalu menghiasi kehidupan manusia timbul sebagai akibat dari penyelewengan terhadap akhlak –akhlak yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Penyelewengan ini tidak akan mungkin terjadi jika tidak ada kesalahan dalam berakidah, baik kepada Allah. Malikat, rasul, kitab-kitab-Nya maupun hari Akhir.

Untuk menjaga kebenaran pendidikan akhlak dan agar seseorang selalu dijalan Allah yang lurus, yaitu jalan yang sesuai dengan apa yang telah digariskan-Nya, maka akidah harus dijadikan dasar pendidikan akhlak manusia berdasar pada Quran dan Sunnah.

Oleh karena itu, tulisan yang berjudul Proses Keimanan ini dibuat untuk menghadirkan proses akidah itu masuk dalam diri setiap manusia dalam bentuk tulisan sebagai bahan pertimbangan dan referensi bagi yang memerlukan dengan berdasar pada Quran dan Sunnah.

 

2.1. Pengertian Akhlak

Menurut Imam Abu Hamid Al-Gazali, kata al-khalq ‘Fisik’ dan al-khuluq ‘akhlak’ adalah dua kata yang sering dipakai bersaman. Seperti redaksi bahasa arab ini, fulaan husnu al-khalq wa al-khuluq yang artinya “si fulan baik lahirnya juga batinnya”. Sehingga yang dimaksud dengan kata “al-khalaq” adalah bentuk lahirnya. Sedangkan al-khuluq adalah bentuk batinnya. Hal ini karena manusia tersusun dari fisik yang dapat dilihat dengan mata kepala, dan dari ruh yang dapat ditangkap dengan batin. Masing-masing dari keduanya memiliki bentuk dan gambaran, ada yang buruk ada pula yang baik. Dan ruh yang ditangkap oleh mata batin itu lebih tinggi nilainya dari fisik yang ditangkap dengan penglihatan mata.

Kata al-khuluq merupakan suatu sifat yang terpatri dalam jiwa, yang darinya terlahir perubahan-perubahan dengan mudah tanpa memikirkan dan merenung terlebih dahulu. Jika sifat yang tertanam itu darinya terlahir perbuatan-perbuatan baik dan terpuji menurut rasio dan syariat, maka sifat tersebut dinamakan akhlak yang baik. Sedangkan jika yang terlahir adalah perbuatan-perbuatan buruk, maka sifat tersebut dinamakan dengan akhlak yang buruk. Al-khuluq adalah suatu sifat jiwa dan gambaran batinnya. Dan sebagaimana halnya keindahan bentuk lahir manusia secara mutlak dapat terindera oleh dua mata. Demikian juga dalam batin manusia, akidah yang baik akan menampakkan keindahan khuluq “akhlak” dan ketaatan pada ALLAH SWT karena mengimani Rukun Iman.

2.2. Rukun Iman

Rukun-rukun iman ada enam: yaitu yang disebutkan dalam hadits Jibril tatkala bertanya kepada Nabi tentang iman? Nabi menjawab: ’Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada ketentuan baik dan buruk-Nya.” Muttafaqun ‘alaih.

1. Iman Kepada Allah

Allah telah memberikan fithrah (insting) kepada setiap makhluk untuk beriman kepada Penciptanya. Seperti firman Allah :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar-Rumm :30).

Akal sehat menunjukkan bahwa alam semesta ini mempunyai sang pencipta. Sesungguhnya makhluk-makhluk ini, generasi terdahulu dan yang menyusulnya, harus ada sang pencipta yang mengadakannya. Dia tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, dan tidak ada secara kebetulan. Maka, pastilah bahwa dia mempunyai pencipta. Dia-lah Allah Rabb semesta alam. Seperti firman Allah :

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri). Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (QS. Ath-Thur :35-36)

Perasaan juga menunjukkan adanya Allah. Sesungguhnya kita melihat silih bergantinya malam dan siang, rizqi manusia dan hewan, mengatur urusan semua makhluk, memberikan indikasi yang pasti terhadap ada-Nya :

Allah mempergantikan malam dan siang.Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan. (QS. An-Nur :44)

Rabb adalah yang memiliki ciptaan, kerajaan, dan perkara. Maka, tiada yang menciptakan kecuali Allah, tiada yang menjadi raja selain Allah, dan semua perkara adalah milik-Nya. Makhluk adalah makhluk-Nya, kerajaan adalah kerajaan-Nya, dan perkara adalah perkara-Nya. Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Mengasihi apabila diminta kasih sayang-Nya, mengampuni apabila diminta ampunan-Nya, memberi apabila diminta, dan mengabulkan bila dimohon. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak pernah mengantuk dan tidak pula tidur.

1, Firman Allah : Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. (QS. Al-A’raaf :54)

2, Firman Allah I: Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Maidah:120)

Kita mengetahui dan meyakini bahwa hanya Allah saja ilah yang sebenarnya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya Dia yang berhak disembah. Dia-lah Rabb semesta alam, ilah alam jagad raya. Kita menyembah-Nya dengan cara yang Dia syari’atkan, disertai kesempurnaan hina kepada-Nya, kesempurnaan cinta dan kesempurnaan pengagungan. Kita mengetahui dan meyakini bahwa sebagaimana Allah Maha Esa dalam rububiyah-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka, demikian pula Dia Maha Esa pada uluhiyah-Nya, tiada ada sekutu bagi-Nya. Maka, kita hanya menyembah-Nya saja, tiada sekutu bagi-Nya dan kita menjauhi penyembahan kepada selain-Nya. Firman Allah :

Dan Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa; Tidak ada Ilah melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah:163)

Setiap yang disembah selain Allah, maka uluhiyahnya adalah batil dan penyembahan kepadanya adalah batil.

(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Hajj :62)

Selain itu, kita juga harus beriman kepada Asma’ dan Sifat Allah. Memahaminya, menghapalnya, mengakuinya, menyembah kepada Allah dengannya, dan mengamalkan tuntutannya. Mengenal sifat-sifat keagungan, kebesaran, kemuliaan, dan keagungan Allah I mengisi hati semua hamba dengan rasa takut dan pengagungan terhadap-Nya.

Mengenal sifat kemuliaan, kemampuan, kekuasaan mengisi hati dengan sifat hina, tunduk, dan merendahkan diri di hadapanRabb-nya.

Mengenal sifat-sifat kasih sayang, kebaikan, kemurahan, dan pemberi mengisi hati dangan rasa ingin dan berharap pada karunia, kebaikan, dan kemurahan Allah.

Mengenal sifat ilmu dan meliputi mengharuskan bagi hamba sifat muraqabah kepada Rabb-nya dalam segala gerakan diamnya.

Gabungan semua sifat ini mengharuskan bagi sifat mahabbah (cinta), rindu, tenang, tawakkal, dan mendekatkan diri kepada Allah I saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Firman Allah :

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalakanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A’raaf :180)

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Allah bersabda, “Sesungguhnya Allah I mempunyai 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa yang dapat menghitungnya niscaya ia masuk surga.” Muttafqun ‘alaih.2

Asma` Allah mengindikasikan atas sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Asma’ diambil dari sifat. Maka, ia adalah asma` dan sifat, karena sebab itulah ia menjadi indah. Mengetahui Allah, asma dan sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia, paling agung dan paling wajib.

Di antara asma` Allah adalah:

Allah: yaitu yang dituhankan, yang disembah, dicintai, diagungkan oleh semua makhluk, tunduk bagi-Nya dan kembali kepada-Nya dalam segala kebutuhan.

Ar-Rahman ar-Rahim: Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: yang rahmat-Nya lebih melebihi luas segala sesuatu.

Al-Malik: Dia Yang Maha Merajai: yang merajai semua makhluk.

Al-Maalik: Dia Yang Maha Memiliki: yang memiliki semua kerajaan, raja-raja dan hamba.

Al-maliik: Pemilik Kerajaan: yang terlaksana perintah-Nya di dalam kerajaan-Nya. Di tangan-Nya kerajaan. Dia memberikan kerajaan kepada orang yang dikehendaki-Nya dan mengambil kerajaan dari orang yang Dia kehendaki.

Al-Quddus (Yang Maha Suci): yang maha suci dari kekurangan dan cela, yang diberikan sifat dengan sifat kesempurnaan.

As-Salaam (Yang Memberi Keselamatan, Yang Melimpahkan kesejahteraan, Yang Terhindar dari segala kekurangan): yang terhindar dari segala cela, penyakit, dan kekurangan.

Al-Mukmin (Yang Memberi Keamanan): yang makhluk-Nya aman dari perbuatan zhalim-Nya. Dia menciptakan keamanan dan memberikan keamanan kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.

Al-Muhaimin(Yang Maha Memelihara): Yang menyaksikan atas makhluk-Nya dengan apa saja yang bersumber dari mereka, tiada suatu pun yang tidak nampak dari-Nya.

Al-’Aziz (Yang Maha Perkasa)”: Yang milik-Nya semua keperkasaan. Dia-lah yang maha perkasa yang tidak ada tandingnya. Yang Maha Perkasa yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Kuat lagi keras, yang semua makhluk tunduk kepada-Nya.

Al-Jabbar(Yang Maha Kuasa memaksakan semua kehendak-Nya kepada semua makhluk-Nya): Yang Maha Tinggi di atas makhluk-Nya, yang berkuasa terhadap mereka menurut yang Dia I kehendaki, yang memiliki alam jagat raya dan kebesaran yang memaksa hamba-Nya dan memperbaiki kondisi mereka.

Al-Mutakabbir (Yang Mempunyai segala kebesaran dan keagungan): yang mempunyai kebesaran dari sifat, maka tidak ada sesuatu yang seumpama-Nya, yang mempunyai keagungan dari setiap yang buruk dan zalim.

Al-Kabir(Yang Maha Besar): Yang segala sesuatu adalah kecil di bawah-Nya. Milik-Nya kebesaran di langit dan bumi.

Al-Khaliq (Yang Maha Pencipta): Yang menciptakan makhluk tanpa ada contoh sebelumnya.

Al-Khallaaq: Yang telah menciptakan dan terus menciptakan segala sesuatu dengan kekuasaan-Nya.

Al-Bari`(Yang Mengadakan): Yang mengadakan makhluk, maka Dia mengadakan mereka dengan kekuasaan, dan membedakan sebagian makhluk-Nya dari yang lain serta menjadikan mereka bebas.

Al-Mushawwir (Yang Membentuk rupa): Yang memunculkan makhluk-Nya berdasarkan rupa yang berbeda-beda, berupa panjang dan pendek, besar dan kecil.

Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi): Yang bermurah hati dengan pemberian dan nikmat secara terus menurut.

Ar-Razzaq (Yang Maha Pemberi Rizqi): yang rizqi-Nya meluasi semua makhluk.

Ar-Raziiq(Yang Memberi Rizqi): Yang menciptakan segala rizqi dan menyampaikannya kepada makhluk-Nya.

Al-Ghafur al-Ghaffar (Yang Maha pengampun): yang dikenal dengan pengampunan dan maaf.

Al-Ghafir : Yang menutupi dosa hamba-Nya.

Al-Qaahir (Yang mempunyai kekuasaan tertinggi): Yang maha tinggi, yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas hamba-hamba-Nya. Yang tunduk kepada-Nya semua jiwa dan menghinakan diri kepada-Nya orang-orang yang kuat.

Al-Qahhar (Yang Maha Mengalahkan): Yang mengalahkan semua makhluk menurut apa yang dikehendaki-Nya. Dia-lah Yang Maha Mengalahkan dan apa yang selain-Nya dikalahkan.

Al-Fattah (Yang Maha Pemberi Keputusan): Yang memutuskan di antara hamba-Nya dengan benar dan adil, dan Dia membuka untuk mereka pintu-pintu rahmat dan rizqi, Yang Maha Penolong bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, Yang menyendiri mengetahui kunci-kunci yang gaib.

Al-’Aliim(Yang Maha Mengetahui): Yang tidak ada sesuatu yang samar atasnya. Yang Maha Mengetahui rahasia dan yang samar, segala yang nampak dan yang tersembunyi, ucapan dan perbuatan, yang gaib dan nyata, Dia Maha Mengetahui yang gaib.

Al-Majiid (Yang Maha Mulia/Yang Maha Terpuji): Yang dipuji dengan perbuatan-Nya. Makhluk-Nya memuji-Nya karena keagungan-Nya. Dia-lah yang dipuji di atas kemuliaan, keagungan, dan kebaikan-Nya.

Ar-Rabb: Yang Maha Memiliki lagi Mengatur (semua makhluk), Rabb segala yang memiliki, Yang memiliki segala makhluk, yang mengatur makhluk-Nya dan mengatur perkara mereka di dunia dan akhirat. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain-Nya. Dan tidak ada Rabb selain-Nya.

Al-’Azhim (Yang Maha Agung): Yang memiliki keagungan dan kebesaran dalam kerajaan dan kekuasaan-Nya.

Al-Waasi’ (Yang Maha Luas karunia-Nya): Yang rahmat-Nya meluasi segala sesuatu, rizqi-Nya meluasi semua makhluk, Maha luas keagungan, kerajaan, dan kekuasaan, Maha luas karuania dan kebaikan.

Al-Karim (Yang Maha Pemurah/Mulia): Yang memiliki kemampuan yang besar, Yang mempunyai kebaikan yang banyak secara terus menerus. Maha suci dari kekurangan dan aib.

Al-Akram (Yang Paling Pemurah): Yang meliputi semua dengan pemberian dan karunia-Nya.

Al-Waduud (Yang Maha Pengasih): Yang mencintai bagi orang yang taat dan kembali kepada-Nya. Yang memuji mereka. Yang berbuat baik kepada mereka dan selain mereka.

Al-Muqit (Yang berkuasa memberi rizqi kepada setiap makhluk, Yang menjaga dan melindungi): Yang menjaga segala sesuatu, Yang mengurus segala sesuatu, Yang memberikan rizqi kepada semua makhluk.

As-Syakuur (Yang Maha mensyukuri): Yang melipat gandakan segala kebaikan dan menghapus segala kesalahan.

Asy-Syakir (Yang Mensyukuri amal kebaikan hamba-Nya): Yang mensyukuri perbuatan taat yang sedikit, lalu Dia memberikan pahala yang besar, memberikan nikmat yang banyak, ridha terhadap syukur yang sedikit.

Al-Lathiif(Yang Maha Halus, Yang Maha lembut terhadap hamba-Nya): Yang tidak ada sesuatu yang samar atas-Nya, Yang berbuat kebaikan kepada hamba-Nya, Yang bersikap lembut kepada mereka dari tempat yang tidak mereka ketahui, Maha Halus yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata.

Al-Halim (Yang Maha penyantun): Yang tidak segera menyiksa hamba-hamba-Nya karena perbuatan dosa mereka, bahkan Dia memberikan tempo agar mereka bertaubat.

Al-Khabiir (Yang Maha Mengenal, Yang Maha Mengetahui): Yang tidak ada sesuatu yang samar atas-Nya dari urusan makhluk-Nya, dari yang bergerak dan berdiam diri, berbicara dan membisu, dan yang kecil dan besar.

Al-Hafiizh (Yang Maha Pemelihara): Yang memelihara apa yang telah Dia ciptakan. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Al-Haafizh: Yang memelihara amal perbuatan hamba dan menjaga kekasih-kekasih-Nya dari terjatuh di dalam dosa.

Ar-Raqiib (Yang Maha Mengawasi): Yang mengawasi hamba-Nya di dalam semua kondisi mereka. Yang Maha Memelihara, Yang tidak pernah gaib dari apa yang dipeliharanya.

As-Samii’ (Yang Maha Mendengar): Yang mendengar semua suara. Pendengaran-Nya meliputi segala suara. Mendengar sesuatu tidak mengganggu-Nya dari mendengar yang lain, kendati berbeda lisan, bahasa, dan kebutuhan. Tidak ada perbedaan di sisi-Nya yang rahasia dan terang-terangan, yang dekat dan yang jauh.

Al-Bashir (Yang Maha Melihat): Yang melihat segala sesuatu. Yang Maha Mengetahui segala kebutuhan dan perbuatan hamba. Siapa yang berhak mendapat petunjuk dan siapa yang berhak mendapat kesesatan. Tidak ada sesuatu yang terlupakan/hilang dari-Nya. Tidak ada sesuatu yang gaib dari-Nya.

Al-’Ali, al-A’la, al-Muta’aal (Yang Maha Tinggi, Yang Paling Tinggi) : Yang memiliki ketinggian dan terangkat. Yang segala sesuatu berada di bawah kekuasaan-Nya. Dia I Yang Maha Agung, Yang tidak ada yang lebih agung dari-Nya. Yang Maha Tinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya. Yang Maha Besar, tidak ada yang lebih besar dari-Nya.

Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana): Yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan hikmah dan keadilan-Nya. Yang Maha Bijaksana dalam perkataan dan perbuatan-Nya.

Al-Hakam al-Hakim: Yang diserahkan hukum kepada-Nya, maka Dia tidak berbuat aniaya dan tidak berbuat zalim kepada seseorang.

Al-Qayyum (Yang Tegak dan terus menerus mengurus makhluk-Nya): Yang berdiri dengan diri-Nya sendiri, maka Dia tidak membutuhkan seseorang. Yang menegakkan/mengurus selain-Nya. Yang tegak mengurus semua makhluk, tidak pernah mengantuk dan tidak pula tidur.

Al-Wahid, al-Ahad (Yang Satu, Yang Tunggal): Yang menyendiri dengan segala kesempurnaan, tidak ada seseorang yang menyekutui-Nya padanya.

Al-Hayy (Yang Maha Hidup): Yang Kekal, tidak akan pernah mati dan tidak pula binasa.

Al-Haasib, al-Hasiib (Yang memberi kecukupan dengan kadar yang tepat): Yang memberi kecukupan kepada hamba-Nya yang selalu mereka butuhkan darinya, yang menghisab hamba-Nya.

Asy-Syahid (Yang Maha Menyaksikan): Yang menyaksikan segala sesuatu. Yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Yang menyaksikan untuk dan atas hamba-Nya dengan apa yang mereka perbuat.

Al-Qawii, al-Matiin(Yang Maha Kuat, Yang Maha Kokoh): Yang Memiliki kekuatan sempurna. Tidak ada yang bisa mengalahkan-Nya. Yang lari tidak bisa lepas dari-Nya. Yang Maha Kuat yang tidak terputus kekuatan-Nya.

Al-Walii (Yang Melindungi): Yang memiliki pengaturan.

Al-Maula: Yang mencintai, menolong, membantu hamba-hamba-Nya yang beriman.

Al-Hamid (Yang Maha Terpuji): Yang berhak mendapat pujian. Yang dipuji atas asma` dan sifat-Nya, perbuatan dan ucapan-Nya, kebaikanNya, syari’at dan kekuasaan-Nya.

As-Shamad (Yang Maha Sempurna, Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu): Yang mencapai kesempurnaan dalam kepemimpinan-Nya, keagungan, dan kemurahan-Nya, yang digantungkan kepada-Nya dalam segala kebutuhan.

Al-Qadiir, al-Qaadir, al-Muqtadir (Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berkuasa): Yang sempurna kekuasaan. Tidak ada sesuatu yang melemahkan-Nya. Tidak ada sesuatu yang luput darinya. Yang memiliki kekuasaan yang sempurna, kekal dan mencakup/meliputi.

Al-Wakiil (Pemelihara, Pelindung): Yang melaksanakan semua urusan hamba.

Al-Kafiil: Yang memelihara segala sesuatu, Yang tegak di atas semua jiwa, Yang menjamin rizqi semua hamba, dan memelihara kemashlahatan mereka.

Al-Ghanii(Yang Maha Kaya): Yang Maha Kaya dari makhluk, Dia tidak membutuhkan seseorang secara absolot.

Al-Haqq, al-Mubiin (Yang Benar): Yang tidak ada keraguan keberadaan-Nya, Yang tidak samar atas makhluk-Nya.

Al-Mubiin (Yang menjelaskan segala sesuatu menurut hakikat sebenarnya): Yang menjelaskan kepada makhluk-Nya jalan-jalan keselamatan di dunia dan akhirat.

An-Nuur(Pemberi Cahaya):Yang menerangi langit dan bumi. Menerangi hati orang-orang yang beriman dengan mengenal dan beriman kepada-Nya.

Dzul Jalali wal Ikraam (Yang memiliki kebesaran dan karunia): Yang berhak ditakuti dan dipuji satu-satunya. Yang memiliki keagungan dan kebesaran. Yang memiliki rahmat dan kebaikan.

Al-Barr(Yang Melimpahkan kebaikan): Yang Maha Penyayang terhadap hamba-Nya, Yang Mengasihi mereka, Yang Melimpahkan kebaikan kepada mereka.

At-Tawwab (Yang Maha Penerima taubat): Yang menerima taubat orang-orang yang bertaubat, mengampuni dosa orang-orang yang kembali, menciptakan taubat dan menerimanya dari hamba-hamba-Nya.

Al-’Afuww (Yang Maha Pemaaf): Yang maaf-Nya meluasi semua dosa yang berasal dari hamba-hamba-Nya, terutama bila disertai taubat dan istighfar.

Ar-Rau`uf: Yang memiliki belas kasih. Ar-Ra`fah: kasih sayang yang tertinggi.

Al-Awwaal: Yang telah ada sebelum segala sesuatu.

Al-Akhir: Yang tidak ada sesuatu sesudah-Nya.

Azh-Zhahir: Yang tidak ada sesuatu pun di atas-Nya.

Al-Warits: Yang tetap ada setelah punahnya semua makhluk-Nya. Kepada-Nya kembali segala sesuatu, Yang hidup tidak pernah mati.

Al-Muhith (Yang meliputi terhadap segala sesuatu): Yang kekuasaan-Nya mencakup semua makhluk-Nya, mereka tidak pernah mampu melepaskan diri atau lari dari-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Menghitung segala sesuatu.

Al-Qariib (Yang Maha Dekat): dari setiap orang. Yang dekat dari yang berdoa dan yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai macam perbuatan taat dan kebaikan.

Al-Hadi(Yang Maha Pemberi petunjuk): Yang memberi petunjuk kepada semua makhluk menuju kebaikan mereka. Yang memberi hidayah kepada hamba-hamba-Nya. Yang menjelaskan kepada mereka jalan yang haq dari yang batil.

Al-Badii’ (Yang Maha Pencipta): Yang tidak ada yang serupa dan sebanding bagi-Nya. Yang menciptakan semua makhluk tanpa contoh sebelumnya.

Al-Faathir: Yang menciptakan semua makhluk. Menciptakan langit dan bumi yang sebelumnya tidak ada.

Al-Kaafi(Yang Melindungi hamba-hamba-Nya): Yang memberi kecukupan kepada semua hamba-Nya apa yang mereka perlukan dan mereka butuhkan.

Al-Ghalib: Yang mengalahkan selamanya. Yang mengalahkan semua yang meminta. Tidak ada seseorang yang bisa menolak keputusan-Nya, atau menghalangi apa yang telah berlalu. Tidak ada yang menolak qadha-Nya. Tidak ada yang mengkritik hukum-Nya.

An-Naashir, an-Nashir: Yang menolong para rasul dan para pengikut mereka atas musuh-musuh mereka. Di tangan-Nya pertolongan, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Al-Musta’aan (Yang diminta pertolongan): Yang tidak meminta pertolongan, bahkan dimohon pertolongan dari-Nya. Kekasih-kekasih dan musuh-musuh-Nya meminta pertolongan kepada-Nya. Dia I memberi pertolongan kepada mereka semua.

Dzul Ma’arij: Yang naik kepada-Nya para malaikat dan ar-Ruh (Jibril u), dan naik kepada-Nya segala amal perbuatan dan ucapan yang Shaleh dan baik.

Dzuth-Thaul: Yang menguraikan karunia, nikmat, dan pemberian kepada hamba-Nya.

Dzul Fadhl: Yang memiliki segala sesuatu, memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam ni’mat.

Ar-Rafiiq(Yang Maha Lembuh, Maha Halus): Yang menyukai kelembutan dan pelakunya. Maha belas kasih kepada hamba-hamba-Nya lagi Maha Penyayang kepada mereka.

Al-Jamiil(Yang Maha Indah): pada dzat, asma`, sifat, dan perbuatan-Nya.

Ath-Thayyib: Yang Maha Suci dari kekurangan dan cacat.

Asy-Syafi (Yang Menyembuhkan): satu-satunya yang menyembuhkan setiap penyakit, tidak ada sekutu bagi-Nya.

As-Subbuh: Yang Maha Suci dari cacat dan kekurangan, Yang bertasbih bagi-Nya tujuh lapis langit dan bumi serta yang ada di atasnya, bertasbih dengan pujian-Nya segala sesuatu.

Al-Witr(Yang Maha Esa, Tunggal, Ganjil): Yang tidak ada sekutu baginya, tidak ada yang serupa dan sebanding. Ganjil yang menyukai ganjil dari amal dan taat.

Ad-Dayyan (Yang Maha Kuasa): Yang menghisab hamba dan membalas mereka, dan memutuskan di antara mereka pada hari pembalasan.

Al-Muqaddim, al-Mu`akhkhir (Yang Mendahulukan, Yang Mengakhirkan): mendahulukan dan mengakhirkan siapa dikehendakinya, mengangkat dan merendahkan siapa dikehendaki-Nya.

Al-Hannan: Yang Maha Penyayang terhadap hamba-Nya, memuliakan orang-orang yang berbuat baik dan mengampuni yang bersalah.

Al-Mannan (Yang Maha Pemberi, Yang Maha Pemurah): Yang memulai pemberian sebelum diminta, banyak memberi, memberi nikmat kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam kebaikan, nikmat, rizqi dan pemberian.

Al-Qaabidh (Yang Menyempitkan rizqi): Yang menyempitkan kebaktian dan ma’rufnya dari siapa yang dikehendaki-Nya.

Al-Baasith (Yang Melapangkan rizqi): Yang menyebarkan karunia-Nya dan meluaskan riqzi-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya.

Al-Hayii, as-Sittiir: Yang menyukai orang yang pemalu dan menutupi (aib, cela) dari hamba-hamba-Nya. Menutupi banyak dosa dan cela hamba-Nya.

As-Sayyid: Yang sempurna dalam kepemimpinan, keagungan, kekuatan, dan semua sifat-Nya.

Al-Muhsin: Yang meliputi semua makhluk dengan kebaikan dan karunia-Nya.

2. BERIMAN KEPADA MALAIKAT

Beriman kepada malaikat berarti meyakini bahwa Allah mempunyai Malaikat-malaikat. Allah jadikan mereka dari cahaya, diciptakan untuk senantiasa taat kepada-Nya dan tidak pernah membangkang terhadap apa saja yang diperintahkan Allah kepada mereka, senantiasa mengerjakan semua perintah-Nya, terus-menerus bertasbih kepada Allah siang dan malam, tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah, dan Allah membebankan kepada mereka berbagai tugas yang berbeda-beda.

Allah berfirman

“Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat.”(QS.Al-Baqarah:177).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang telah diturunkan kepadanya dari Tuhannya demikian pula orang-orang yang beriman, semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kita-kitab-Nya dan para rasul-Nya.” (QS.Al-Baqarah:285).

Kedudukan dan hukum beriman kepada Malaikat.

Beriman kepada malaikat merupakan rukun kedua dari rukun iman yang enam, tidak sah keimanan seseorang tanpa beriman kepada malaikat. Para ulama sepakat bahwa hukum beriman kepada malaikat adalah wajib, barangsiapa mengingkari keberadaan mereka atau sebagian dari mereka yang telah disebutkan (nama-namanya) oleh Allah, maka ia telah kafir dan menentang Al-Quran, sunnah dan ijma’.

Allah berfirman:

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS.An-Nisa’: 136).

2. Cara beriman kepada Malaikat

Beriman kepada malaikat ada dua cara, beriman secara global dan secara terperinci, adapun beriman kepada malaikat secara global mencakup beberapa hal, diantaranya:

Pertama: Mengakui keberadaan malaikat, dan bahwa mereka adalah makhluk ciptaan Allah. Diciptakan untuk beribadah kepada-Nya, dan keberadaan mereka adalah hakiki. Ketidak-mampuan kita melihatnya bukan berarti mereka tidak ada, karena betapa banyak benda atau makhluk kecil dan halus di alam mayapada ini yang kita tidak bisa melihatnya, tapi benda itu benar-benar ada. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat malaikat Jibril dua kali dalam bentuk aslinya, begitu pula sebagian sahabat pernah menyaksikan sebagian malaikat dalam bentuk manusia.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitabnya “Musnad” dari Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya, ia memiliki enam ratus sayap, setiap sayapnya menutupi ufuk”. Dalam hadis Jibril yang diriwayatkan oleh imam Muslim, bahwa Jibril datang dalam bentuk seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya dan sangat hitam rambutnya, tidak kelihatan padanya bekas musafir, dan tidak seorangpun di antara sahabat yang mengenalnya.

Kedua: Menempatkan mereka sesuai dengan kedudukan yang Allah tetapkan untuk mereka, dimana mereka adalah sebagai hamba-Nya yang selalu siap untuk diperintah, Allah telah memuliakan mereka dengan mengangkat kedudukannya serta mendekatkan mereka kepada-Nya, dan bahwasanya di antara mereka ada yang sebagai utusan untuk membawa wahyu dan yang lainnya sesuai dengan kehendak Allahsubhanahu wataala.

Sekalipun demikian mereka adalah hamba Allah yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat baik terhadap dirinya sendiri atau orang lain dan tidak diperbolehkan sedikitpun beribadah untuk mereka, lebih-lebih menganggap mereka mempunyai sifat-sifat ketuhanan seperti keyakinan orang-orang Nasrani terhadap Ruhul Qudus (malaikat Jibril alaihis salam).

Allah berfirman:

“Dan mereka berkata: Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak, maha suci Allah,sebenarnya (malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS.Al-Anbiya’:26-27).

Dan Allah berfirman:

“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS.At-Tahrim:6).

Beriman kepada malaikat secara global ini wajib hukumnya atas setiap muslim dan muslimah. Wajib atas mereka mempelajari dan meyakininya, dan tidak ada alasan untuk tidak mengetahuinya.

Adapun beriman kepada malaikat secara terperinci mencakup hal-hal berikut:

  1. Asal kejadian mereka.

Allah menciptakan para malaikat dari cahaya, mencipatakan jin dari api dan anak cucu Adam dari tanah liat, dan Allah telah menciptakan malaikat terlebih dahulu sebelum menciptakan Adam alaihis salam. Dalam sebuah hadits disebutkan:

(( خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ، وَخُلِقَ الجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وَصَفَ لَكُمْ ))

“Malaikat diciptakan dari cahaya, dan jin diciptakan dari api dan diciptakan anak Adam dari apa yang telah dijelaskan kepadamu (yaitu tanah).” (HR. Muslim).

  1. Jumlah malaikat

Malaikat adalah makhluk yang tidak ada seorangpun mampu menghitung jumlah mereka kecuali Allah, karena begitu banyaknya, tidak ada satu tempat pun dengan jarak empat jari di langit kecuali disitu ada malaikat yang senantiasa bersujud atau berdiri, sebagaimana Baitul makmur di langit ketujuh setiap hari dimasuki tujuh puluh ribu malaikat, kemudian mereka tidak (dapat) kembali masuk lagi, karena begitu banyaknya. Pada hari kiamat akan didatangkan neraka, baginya tujuh puluh ribu tali kendali, setiap tali kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat.

Allah berfirman:

“Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri.” (QS.Al-Muddatsir:31).

Dan dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

((أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحُقَّّ أَنْ تَئِطَّ، مَا فِيْهَا مَوْضِعُ قَدَمٍ إِلاَّ وَفِيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ وَرَاكِعٌ ))

“Langit merintih kelelahan, dan sewajarnya dia merintih, tidak ada satu tempat selebar tapak kaki di langit melainkan disitu ada malaikat yang senantiasa sujud dan ruku’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Nama-nama Malaikat

Seorang muslim wajib beriman dengan nama-nama malaikat, baik yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an maupun yang disebutkan Rasulullah dalam sunahnya. Dan yang paling mulia di antara mereka ada 3 malaikat:

  1. Jibril atau disebut juga Jibrail, dia adalah Ruhul Qudus yang bertugas menyampaikan wahyu (dengannya hati menjadi hidup) kepada rasul-rasul Allah..
  2. Israfil bertugas untuk meniup terompet sebagai tanda akhir dari kehidupan dunia dan awal kehidupan akhirat. Yang dengannya jasad-jasad hidup kembali.
  3. Mikail atau disebut juga Mikal, dan bertugas untuk menurunkan hujan (dengannya bumi menjadi tumbuh) sesuai dengan perintah Allah.
  1. Sifat-sifat Malaikat

Malaikat adalah makhluk hakiki, memiliki fisik yang hakiki, mempunyai sifat-sifat baik khalqiyah (bentuk tubuh) maupun khuluqiyah (kepribadian), diantaranya adalah:

  1. Malaikat mempunyai tubuh dan fisik yang besar. Allah ciptakan mereka dalam bentuk yang besar lagi kuat, sesuai dengan besarnya tugas yang dipikulkan kepada mereka di langit dan di bumi.“Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Fathir:1).
  2. Malaikat itu tidak butuh kepada makanan dan minuman. Allah ciptakan mereka tidak butuh kepada makan dan minum, begitu juga mereka tidak kawin dan tidak berketurunan.Malaikat mempunyai akal dan hati, mereka berbicara dengan Allah dan Allah berbicara dengan mereka, sebagaimana pula mereka berbicara dengan Nabi Adam alaihis salam dan nabi-nabi lainnya.
  3. Malaikat mampu berubah bentuk dari rupa aslinya. Allah subhanahu wataala telah memberikan kemampuan kepada mereka untuk merubah bentuk menjadi manusia laki-laki. Ini merupakan jawaban atas pendapat kelompok penyembah berhala yang meyakini bahwa malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah. Dan kita tidak mengetahui bagaimana caranya mereka berubah rupa dan kita sangat sulit untuk membedakan mereka dengan manusia kala mereka berubah rupa sebagai manusia.
  4. Malaikat itu mati. Di hari kiamat semua malaikat akan mati termasuk malaikat pencabut nyawa, kemudian mereka dibangkitkan kembali untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibebankan Allah kepada masing-masing mereka.
  5. Para Malaikat melakukan ibadah kepada Allah dengan berbagai macam ibadah, seperti: shalat, do’a, tasbih, ruku’, sujud, rasa takut kepada Allah, cinta dan sebagainya.

Sifat-sifat ibadah malaikat:

  1. Kontiniu dan terus-menerus tanpa ada putus.Semata-mata ikhlas karena Allah subhanahu wataala.
  2. Senantiasa mentaati perintah Allah dan jauh dari kemaksiatan, karena mereka terpelihara dari dosa dan maksiat.
  3. Tawadhu’ (rendah diri) kepada Allah, disertai dengan banyak ibadah.

Allah berfirman:

“Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (QS.Al-Anbiya’:20).

  1. Tugas-tugas malaikat

Malaikat mengemban berbagai tugas mulia, yang telah dibebankan Allah subhanahu wataala kepada mereka, di antara mereka:

  • Bertugas memikul arsy.
  • Bertugas menyampaikan wahyu kepada para rasul.
  • Bertugas menjaga surga dan neraka.
  • Bertugas untuk mengatur awan, hujan, dan tumbuh-tumbuhan.
  • Bertugas menjaga gunung.
  • Bertugas meniup sangkakala.
  • Bertugas sebagai pencatat amalan manusia.
  • Bertugas menjaga manusia, apabila Allah hendak mentaqdirkan sesuatu atas orang tersebut maka malaikat meninggalkannya dan terjadilah apa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wataala.
  • Bertugas menyertai manusia dan mendo’akannya dengan kebaikan.
  • Bertugas menjaga janin, meniupkan ruh kepada manusia, menulis taqdir rezkinya, amalannya dan nasibnya celaka atau bahagia.
  • Bertugas mencabut nyawa manusia ketika mati.
  • Bertugas sebagai penanya dalam kubur.
  • Ada yang bertugas menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dari umatnya.

Hikmah beriman kepada malaikat:

  • Sebagai bukti keimanan seseorang, karena tidak sah iman seseorang tanpa beriman kepada malaikat.
  • Menyadarkan kita akan kebesaran, keagungan dan kekuasaan Allah subhanahu wataala, karena kebesaran makhluk adalah sebagai bukti kebesaran penciptanya.
  • Dengan mengetahui sifat-sifat, keadaan dan tugas-tugas malaikat akan menambah keimanan dalam hati seorang muslim.
  • Akan timbul rasa tenang dan aman pada diri orang mukmin, karena Allah telah menetapkan untuk setiap mereka malaikat yang senantiasa menyertai mereka.
  • Akan menambah rasa cinta kepada mereka, karena mereka melaksanaan ibadah secara sempurna, dan mereka mendo’akan ampunan untuk orang-orang mukmin.
  • Membangkitkan rasa benci terhadap perbuatan-perbuatan maksiat.
  • Membuahkan rasa syukur kepada Allah subhanahu wataala, atas perhatian-Nya terhadap hamba-Nya, dengan menugaskan malaikat untuk menjaga manusia dan mencatat semua amalan mereka serta kemaslahatan-kemaslahatan mereka yang lain.

3. BERIMAN DENGAN KITAB-KITAB ALLAH

Beriman dengan semua kitab yang diturunkan kepada para rasul merupakan rukun ketiga dari rukun iman yang enam. Allah telah mengutus para Rasul dengan membawa kebenaran yang nyata, dan Dia turunkan bersama mereka kitab-kitab sebagai rahmat bagi hamba-Nya dan sekaligus sebagai petunjuk bagi mereka demi tercapainya kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, dan sebagai pedoman hidup dan hakim antara mereka dalam masalah-masalah yang mereka perselisihkan.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Alkitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS.Al-Hadid:25).

Dan firman-Nya:

“Manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dengan benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS.Al-Baqarah:213).

1. Hakikat beriman kepada kitab

Beriman kepada kitab berarti membenarkan secara mutlak bahwa Allah mempunyai kitab-kitab yang diturunkan kepada rasul-rasul-Nya dan kitab-kitab tersebut merupakan kalam Allah yang hakiki, ia merupakan cahaya dan petunjuk, semua kandungannya merupakan kebenaran, kejujuran dan keadilan yang wajib diikuti dan dilaksanakan. Dan tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah subhanahu wataala.

Allah berfirman:

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS.An-Nisa’:164).

Dan firman-Nya:

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah.”(QS.At-Taubah:6).

2. Hukum beriman kepada kitab-kitab

Seorang muslim wajib beriman kepada semua kitab yang diturunkan kepada rasul-rasul Allah, bahwasanya Allah telah berfirman dengan kitab itu dengan sesungguhnya, dan kitab-kitab tersebut bukanlah makhluk, barangsiapa mengingkari itu semua atau sebagiannya maka ia telah kafir.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS.An-Nisa’:136).

3. Kebutuhan manusia kepada kitab-kitab dan Hikmah diturunkanya:

  1. Di antara hikmah diturunkannya kitab-kitab adalah sebagai pedoman bagi umat manusia dalam mengenal agamanya.
  2. Diturunkannya kitab-kitab adalah sebagai hakim yang adil dalam semua permasalahan yang diperselisihkan manusia.
  3. Diturunkan Al-Qur’an adalah untuk menjaga kemurnian agama Islam setelah wafatnya rasulullahshallallahu alaihi wasallam.
  4. Diturunkan kitab-kitab adalah sebagai hujjah Allah subhanahu wataala terhadap makhluk-Nya (di hari kiamat nanti), tidak ada alasan bagi manusia untuk mengelak di hadapan Allah nanti ketika mereka diadili bahwa belum datang petunjuk kepada mereka.

Allah berfirman:

“Manusia adalah umat yang satu (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS.Al-Baqarah:213).

4. Cara beriman kepada kitab-kitab

Beriman kepada kitab-kitab ada dua cara: global dan terperinci.

Adapun beriman secara global yaitu: mengimani bahwa Allah subhanahu wata’ala telah menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul-Nya.

Adapun secara rinci yaitu beriman kepada kitab-kitab yang nama-namanya telah disebutkan Allah dalam Al-Qur’an seperti Taurat, Injil, Zabur, Suhuf Ibrahim dan Musa, serta beriman bahwa Allah mempunyai kitab-kitab lain yang diturunkan kepada para nabi, tidak ada yang mengenal nama-nama dan jumlah kitab-kitab tersebut kecuali Allah.

Dan kitab-kitab tersebut diturunkan untuk mewujudkan tauhid, dengan mengesakan Allah subhanahu wata’ala dalam ibadah, mewujudkan amal yang shaleh, mencegah dari perkara-perkara syirik dan berbuat kerusakan di muka bumi. Maka pada hakikatnya misi da’wah para rasul adalah satu, sekalipun berbeda dalam beberapa rincian syariat dan hukum.

Beriman dengan kitab-kitab berarti mengakui turunnya kepada para rasul yang terdahulu, sedangkan beriman kepada Al-Qur’an berarti mengakui dan membenarkan serta mengikuti kandungannya.

Allah berfirman:

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya.” (QS.Al-baqarah:285).

Keistimewaan Al-Qur’an dari kitab-kitab sebelumnya:

  1. Semua lafadz dan maknanya serta hakikat alam dan ilmiah yang dikandungnya adalah mukjizat.
  2. Al-Qur’an merupakan kitab samawiyah yang terakhir, dengannya ditutup kitab-kitab sebelumnya, sebagai-mana rasulullahshallallahu alaihi wasallam adalah penutup bagi para nabi sebelumnya.
  3. Sesungguhnya Allah telah menjamin kemurnian Al-Qur’an, dengan menjaganya dari penyelewengan dan perubahan, berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya, telah banyak terjadi penyelewengan dan perubahan di dalamnya.
  4. Al-Qur’an adalah sebagai pembenar terhadap kitab-kitab sebelumnya.
  5. Al-Qur’an menasakh (menghapus) semua kitab-kitab sebelumnya.

Allah berfirman:

“Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS.Yusuf:111).

5. Kitab-kitab samawi yang tersebut dalam Al-Qur’an dan sunah.

  1. Al-Qur’anAl-Qur’an adalah kalam (firman) Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam penutup para nabi dan rasul. Al-Qur’an merupakan kitab samawi yang terakhir diturunkan. Allah subhanahu wataala telah menjamin untuk memeliharanya dari penyelewengan dan perubahan, dan Allah menjadikannya sebagai nasikh (penghapus) bagi kitab-kitab sebelumnya.

Allah berfirman:

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelum-nya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan.” (QS.Al-Maidah: 48).

  1. TAURATTaurat adalah kitab yang diturunkan Allah kepada nabi Musa alaihis salam. Allah jadikan sebagai petunjuk dan cahaya, yang merupakan sumber hukum bagi para nabi Bani Israil dan ulama-ulama mereka. Dan Taurat yang wajib kita beriman kepadanya adalah kitab Taurat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa alaihis salam, bukan Taurat yang sudah diselewengkan yang ada pada ahli kitab di zaman sekarang.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya ada petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara-perkara orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah.” (QS.Al-Maidah:44).

  1. INJILInjil adalah kitab yang diturunkan Allah kepada nabi Isa alaihis salam yang membawa kebenaran, dan membenarkan kitab-kitab samawiyah sebelumnya. Dan Injil yang wajib kita beriman kepadanya adalah Injil yang asli yang diturunkan Allah langsung kepada nabi Isa, bukan kitab Injil yang sudah diselewengkan yang ada pada ahli kitab sekarang.

Allah berfirman:

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat, dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil, sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat, dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS.Al-Maidah:46).

  1. ZABURKitab Zabur diturunkan kepada nabi Dawud alaihis salam, dan yang wajib kita imani adalah kitab Zabur yang Allah turunkan kepada nabi Daud, bukan yang sudah diselewengkan oleh orang-orang Yahudi.

Allah berfirman:

“Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud.” (An-Nisa’:163).

  1. Suhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim dan MusaYaitu Suhuf (lembarang-lembaran) yang diturunkan Allah kepada nabi Ibrahim dan Musa, akan tetapi Suhuf tersebut telah hilang dan tidak diketahui sedikitpun kandungannya kecuali apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan sunah.

Allah berfirman :

“Ataukah belum diberitakan kepada apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? yaitu bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (QS.An-Najm:36-41).

4. BERIMAN KEPADA RASUL-RASUL

Beriman kepada rasul adalah salah satu rukun iman, dimana tidak sah iman seseorang tanpa beriman kepada para rasul. Maksud beriman kepada rasul adalah: meyakini secara pasti bahwa Allah subhanahu wataala mempunyai rasul-rasul, mereka sengaja dipilih Allah untuk menyampaikan risalah-Nya. Barangsiapa mengikuti mereka maka mendapat petunjuk dan barangsiapa yang mengingkarinya maka tersesat. Dan mereka para rasul telah menyampaikan semua yang telah diturunkan Allah kepada mereka secara jelas. Mereka telah menunaikan semua amanah, membimbing umat dan berjuang di jalan Allah dengan sebenar-benarnya, menegakkan hujjah, tidak ada sedikitpun isi risalah yang diganti atau diubah atau disembunyikan mereka. Kita wajib beriman dengan semua rasul baik yang disebutkan namanya atau yang tidak disebutkan, dan setiap rasul yang datang pasti membawa berita tentang kedatangan rasul setelahnya dan rasul yang datang sesudahnya membenarkan rasul-rasul sebelumnya.

Allah berfirman:

“Katakanlah (hai orang-orang beriman) kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Dan kami tidak membedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS.Al-Baqarah:136).

Kenabian merupakan perantara antara Allah dan makhluk dalam menyampaikan syari’at-Nya, dan status kenabian merupakan hak prerogatif Allah subhanahu wataaladimana Dialah yang menentukan siapa yang Dia kehendaki untuk mendapatkan derajat kenabian, tidak ada usaha atau pilihan dari seorang hamba untuk mendapatkan status tersebut. Allah berfirman:

“Allah memilih utusan-utusan-Nya dari malaikat dan dari manusia, sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat.” (QS.Al-Haj:75).

Jadi status kenabian sifatnya adalah pemberian bukan sesuatu yang bisa diusahakan, tidak bisa diperoleh dengan banyak berbuat ketaatan atau ibadah, tidak pula berdasarkan pilihan atau permohonan dari nabi, akan tetapi kenabian semata-mata adalah pilihan dari Allah subhanahu wata’ala.

Allah berfiman:

“Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada agama-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS.Asy-Syuura:13).

Di antara hikmah diutusnya para rasul:

  • Mengeluarkan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah tuhan manusia. Dan membebaskan manusia dari belenggu penghambaan diri kepada sesama makhluk menuju kemerdekaan penghambaan diri kepada Allah.

Allah berfiman:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS.Al-Anbiya: 107).

  • Memperkenalkan kepada manusia tentang hakikat dan tujuan Allah menciptakan makhluk, yaitu untuk beribadah hanya kepada-Nya, dan mengesakan-Nya, yang mana hal itu tidak bisa diketahui kecuali melalui para rasul yang telah dipilih oleh Allah di antara makhluk-Nya, dan Allah istimewakan mereka dari semua makhluk.

Allah berfiman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): sembahlah Allah saja dan jauhilah taghut itu.” (QS.An-Nahl:36).

  • Untuk menegakkan hujjah atas manusia dengan mengutus para rasul, supaya tidak ada alasan bagi mereka untuk membantah Allah.

Allah berfirman:

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.” (QS.An-Nisa’:165).

  • Menjelaskan kepada manusia tentang beberapa perkara ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh akal, seperti nama-nama dan sifat-sifat Allah, mengenal para malaikat, berita tentang hari kiamat dan lainnya.
  • Sebagai suri tauladan yang baik bagi umat manusia, karena Allah telah membekali mereka dengan akhlak yang mulia, serta menjaga mereka dari terjerumus kepada syahwat dan syubhat.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS.Al-An’am:90).

Dan dalam ayat lain:

“Sesungguhnya telah ada pada diri mereka (rasul-rasul Allah) itu suri tauladan yang baik bagimu.” (QS.Al-Mumtahanah:6).

  • Memperbaiki, membersihkan dan mensucikan jiwa-jiwa manusia, dan memperingatkannya dari hal-hal yang akan merusaknya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (As sunah).” (QS.Al-Jum’ah:2).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

((إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ ))

“Bahwasanya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad dan Hakim).

Tugas para rasul

Rasul-rasul yang diutus oleh Allah subhanahu wataala mempunyai tugas-tugas yang sangat mulia, di antaranya:

Menyampaikan syari’ah (ajaran agama) dan mengajak manusia untuk beribadah hanya kepadaAllah.

Menjelaskan semua permasalahan agama yang diturunkan AllahMembimbing manusia kepada kebaikan dan memperingatkan mereka dari kejahatan, serta membawa kabar gembira tentang adanya pahala.

Memperbaiki kondisi umat manusia, dengan memberikan tauladan yang baik.

Menegakkan syari’at Allah serta mempraktekkannya.

Memberikan kesaksian atas umat mereka pada hari kiamat.

Para rasul adalah ma’sum (terpelihara dari perbuatan dosa)

Guna mengemban misi yang amat besar yaitu menyampaikan risalah agama kepada ummat, maka Allah benar-benar memilih di antara hamba-hamba-Nya yang paling istimewa yang mempunyai akhlak dan kepribadian yang sempurna, selain itu Allah memelihara mereka dari perbuatan dosa besar serta menjauhkan mereka dari sifat-sifat tidak baik, para ulama sepakat bahwa semua rasul itu ma’sum (tidak pernah salah) dalam menyampaikan risalah agama Allah. Allah subhanahu wata’alaberfirman:

“Hai rasul sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (QS.Al-Maidah:67).

Dan Allah berfirman:

Apabila ada di antara rasul yang melakukan dosa kecil yang tidak berhubungan dengan risalah yang disampaikan, maka Allah subhanahu wata’ala langsung menegurnya dan merekapun segera bertaubat dan kembali kepada-Nya, sehingga dosa-dosa kecil tersebut seolah-olah tidak ada terjadi, dengan demikian mereka menempati derajat yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Demikianlah Allah subhanahu wataala mengkhususkan nabi-nabi-Nya dengan mengarunia mereka akhlak, sifat-sifat mulia serta mensucikan mereka dari segala hal yang bisa menodai kehormatan dan kedudukan mereka sebagai nabi.

Jumlah nabi dan rasul

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa rasul-rasul Allah berjumlah sekitar 300 sampai 319. Hal itu dikatakan oleh rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau ditanya tentang berapa jumlah rasul. Beliau mengatakan: “Tiga ratus lima belas banyaknya.” (HR. Hakim).

Adapun jumlah nabi lebih banyak dari itu. Di antara mereka ada yang dikisahkan Allah kepada kita dalam Al-Quran, dan di antara mereka ada yang tidak dikisahkan. Allah telah menyebutkan nama-nama 25 nabi dan rasul dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman:

“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu maha bijaksana lagi maha mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepada-nya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh. Dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya). (Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS.Al-An’am:83-87).

Demikian pula Allah subhanahu wata’ala telah melebihkan derajat sebagian nabi-nabi di atas sebagian yang lain, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain).” (QS.Al-Isra’: 55).

Juga sebagaimana Allah subhanahu wata’ala juga melebihkan sebagian rasul-rasul atas sebagian yang lain, dalam firman-Nya:

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.” (QS.Al-Baqarah: 253).

Dan Muhammad shallalahu alaihi wasallam adalah rasul terbaik dan penutup para nabi serta imamnya orang-orang yang bertaqwa, pemimpin seluruh anak cucu Adam dan imam para nabi jika mereka berkumpul, dan pembicara mereka jika dalam utusan, pemilik maqam terpuji yang diimpikan oleh orang-orang terdahulu ataupun yang akan datang, pemegang panji pujian dan pemilik telaga di surga, pemberi syafaat manusia di hari kiamat, pemilik wasilah dan keutamaan, Allah mengutusnya dengan membawa syariat dien yang paling utama, dan Dia menjadikan umatnya sebagai umat terbaik dari seluruh umat manusia, dan Allah menghimpun untuknya dan umatnya segala keutamaan dan kebaikan yang belum pernah diberikan untuk umat sebelumnya dan mereka adalah umat paling akhir penciptaannya, akan tetapi paling awal dibangkitkan.

Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda:

((فُضِّلْتُ عَلَى الأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ))

“Aku diberikan enam kelebihan atas seluruh para nabi.” (Hadits riwayat Muslim).

Beliau juga bersabda:

((أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَبِيَدِيْ لِوَاءُ الحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ. وَمَا مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ آدَمَ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَائِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ))

“Saya pemimpin anak Adam di hari kiamat dan di tanganku lah panji pujian, tanpa kesombongan. Tidak seorang nabipun di hari itu mulai dari Adam dan yang datang sesudahnya, kecuali pasti berada di bawah panjiku di hari kiamat.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Dan rasul yang terbaik setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah Ibrahim alaihis salam khalil rahman (kekasih yang maha pemurah). Kedua rasul inilah sebaik-baik rasul ulul azmi, kemudian yang berikutnya adalah tiga rasul yang lain.

Mukjizat para nabi

Allah memperkuat rasul-rasul-Nya dengan tanda-tanda yang agung dan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan sebagai hujjah ataupun kebutuhan (ketika diperlukan). Seperti al-Qur’an al-Karim, terbelahnya bulan, tongkat yang berubah menjadi ular, penciptaan burung dari tanah dan lain sebagainya. Mukjizat yang melebihi batas kewajaran manusia adalah merupakan bukti kenabian yang benar, dan karamah adalah merupakan bukti benarnya kesaksian dengan kenabian yang benar.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata.” (QS.Al-Hadid:25).

Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(( مَا مِنْ نَبِيٍّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ إِلاَّ وَقَدْ أُوْتِيَ مِنَ الآيَاتِ مَا آمَنَ عَلَى مِثْلِهِ البَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِيْ أُوْتِيْتُهُ وَحْيًا أَوْحَاهُ إِلَيَّفَأَرْجُو أَنْ أَكُوْنَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ القِيَامَةِ ))

“Tidak ada seorang nabipun kecuali pasti telah diberikan mu’jizat yang tidak cukup untuk mengimankan manusia. Sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku, dan aku berharap menjadi (nabi) yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat.” (Muttafaq Alaih).

Beriman kepada kenabian Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Beriman kepada kenabian Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam merupakan salah satu pokok keimanan yang sangat penting, yang tidak mungkin iman seseorang sah kecuali dengan beriman kepada kenabiannya.

Allah berfirman:

“Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala.” (QS.Al-Fath:13).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(( أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنِّيْ رَسُوْلُ الله ))

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan (bersaksi) bahwa aku adalah rasulullah.” (HR. Muslim).

Dan iman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak sempurna kecuali jika terpenuhi hal-hal berikut:

Pertama:

Ma’rifah (mengenal) Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim, Hasyim dari suku Quraisy, Quraisy dari Arab dan Arab dari keturunan nabi Ismail bin Ibrahim alaihis salam. Beliau dikaruniai umur 63 tahun, diantaranya 40 tahun sebelum kenabian dan 23 tahun mengemban risalah sebagai nabi dan rasul.

Kedua:

Membenarkan segala yang diberitakannya, mentaati seluruh perintahnya dan menjauhi semua larangannya dan beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang disyariatkannya.

Ketiga: Meyakini bahwa beliau adalah Rasulullah untuk semua makhluk, baik jin atapun manusia, maka tidak ada jalan lain bagi siapapun kecuali harus mengikuti beliau. (QS.Al-A’raf : 158).

Keempat:

Mengimani risalahnya, dan bahwa beliau adalah nabi terbaik serta penutup para nabi. (QS.Al-Ahzab : 40).

Kelima:

Sesungguhnya Allah telah memperkuat beliau dengan mu’jizat terbesar dan ayat terjelas, yaitu Al-Qur’an Al-Karim kalamullah (firman Allah), yang dijaga dari perubahan dan pergantian. (QS.Al-Isra’:88)

Keenam:

Mengimani bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan risalah Islam, menyampaikan amanah, menasehati umat, tidak ada suatu kebaikanpun kecuali telah beliau tunjukkan kepada umatnya dan menganjurkan untuk melaksanakannya, dan tiada suatu keburukanpun kecuali sudah beliau larang dan peringatkan umat daripadanya. (QS.At-Taubah:128).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

((مَا مِنْ نَبِيٍّ بََعَثَهُ اللهُ فِيْ أُمَّةٍ قَبْلِيْ إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ وَيُحَذِّرُ أُمَّتَهُ مِنْ شَرِّ مَا يَعْلَمُهُ لََهُمْ))

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kepada suatu umat, kecuali wajib baginya untuk menunjukkan umatnya kepada kebaikan yang dia ketahui dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang dia ketahui.” (HR. Muslim).

Ketujuh:

Mencintai beliau shallallahu alaihi wasallam dan mengedepankan kecintaan kita kepada beliau di atas mencintai diri dan semua makhluk. Mengagungkan, menghormati, memuliakan, menghargai dan mentaati beliau. Karena semuanya ini adalah merupakan hak beliau yang telah diwajibkan Allah dalam Al-Quran. Maka mencintai beliau berarti mencintai Allah dan mentaati beliau berarti mentaati Allah..

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

((لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ))

“Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu hingga ia lebih mencintai aku daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia.”(Muttafaq Alaih)

Kedelapan:

Memperbanyak salawat dan salam untuk beliau. Sesungguhnya orang yang bakhil adalah orang yang tidak mengucapkan salawat apabila disebut nama beliau. (Al-Ahzab:56).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali.” (HR. Muslim).

Kesembilan: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan seluruh nabi hidup di sisi Tuhan mereka, dengan kehidupan alam barzakh yang lebih mulia dan lebih tinggi daripada kehidupan para syuhada.

Kesepuluh:

Termasuk bentuk penghormatan kepada beliau: tidak mengangkat suara di hadapan beliau ketika masih hidup, demikian juga ketika memberi salam di hadapan kuburnya. (Al-Hujurat:2).

Kesebelas:

Mencintai para shahabat, keluarga dan istri-istri beliau dengan menunjukkan kesetiaan kita kepada mereka, dan tidak menghina, mencaci serta menuduh mereka dengan hal-hal negatif.

Ketiga belas:

Iman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak akan terwujud kecuali dengan membenarkannya dan mengamalkan risalah yang dibawanya. Inilah makna ketaatan kepadanya. Mentaatinya berarti mentaati Allah, dan maksiat kepadanya berarti maksiat kepada Allah.

“Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS.Ali Imran:31).

5. BERIMAN KEPADA HARI AKHIRAT

Meyakini akan berakhirnya kehidupan dunia ini dan setelah itu akan memasuki alam lain, dimulai dengan kematian dan kehidupan alam kubur untuk kemudian terjadinya hari kiamat dan selanjutnya adalah kebangkitan (dari kubur), dikumpulkan di padang mahsyar dan diputuskan ke surga atau neraka. Iman kepada hari akhirat merupakan salah satu rukun Iman yang tidak sempurna keimanan seseorang tanpanya, barangsiapa yang mengingkarinya maka dia telah kafir.

Allah berfirman:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS.Al-Baqarah:177).

Termasuk yang wajib diimani, adalah mengimani mukaddimah-mukaddimah datangnya hari akhir ini sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berupa tanda-tanda hari kiamat.

Para Ulama telah membagi tanda-tanda datangnya hari kiamat ini kepada dua macam:

Pertama: Tanda-tanda kecil, yaitu yang menunjukkan dekatnya hari kiamat. Dan itu banyak sekali, sebagian besarnya telah terjadi. Diantaranya, diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, disia-siakannya amanah, dihiasnya masjid untuk menjadi kebanggaan, perlombaan para penggembala dalam mendirikan bangunan, memerangi Yahudi dan membunuh mereka, semakin pendeknya waktu, kurangnya amal, munculnya berbagai fitnah, banyaknya pembunuhan, dan tersebarnya zina serta maksiat.

Allah berfirman :

“Telah dekat (datangnya) hari kiamat dan telah terbelah bulan.” (QS.Al-Qamar:1).

Kedua: Tanda-tanda besar, yaitu yang terjadi menjelang saat-saat terjadinya kiamat, dan mengingatkan mulai terjadinya. Dan ini ada sepuluh tanda, dan belum satupun yang muncul.

Kesepuluh tanda itu adalah: munculnya Mahdi, keluarnya Dajjal, turunnya Isa alaihi salam dari langit sebagai hakim yang adil lalu dia menghancurkan salib, membunuh Dajjal dan babi, menghentikan jizyah dan menghukumi dengan syariat Islam, munculnya Ya’juj dan ma’juj yang akan didoakan oleh Isa dengan kehancuran maka merekapun mati, terjadi tiga gerhana, satu di timur, satu di barat dan satu di jazirah Arab, asap yaitu: keluarnya asap besar dari langit yang menyelimuti manusia dan menutupi pandangan mereka, diangkatnya Al-Qur’an dari bumi ke langit, terbitnya matahari dari barat, munculnya binatang aneh dan berkobarnya api besar dari Adn yang menggiring manusia ke bumi Syam sebagai tanda besar yang paling terakhir.

Imam Muslim meriwayatkan dari Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari radhiallahu anhu, bahwasanya beliau berkata:

((ثُمَّ يَتَحَقَّقُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ فَقَالَ مَا تَذَاكَرُوْنَ؟ قَالَ: نَذْكُرُ السَّاعَةَ قَالَ: إِنَّهَا لَنْ تَقُوْمَ حَتَّى تَرَوْا قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ. فَذَكَرَ :الدُّخَانَ، وَالدَّجَّالَ، وَالدَّابَّةَ، وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُوْلِ عِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ، وَيَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ، وَثَلاَثَةَ خُسُوْفٍ: خَسَفٌ بِالمَشْرِقِ، وَخَسَفٌ بِالمَغْرِبِ، وَخَسَفٌ بِجَزِيْرَةِ العَرَبِ، وَآخِرَ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ اليَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ)) [رواه مسلم]

“Suatu ketika nabi datang dan kami sedang mudzakarah (saling mengingatkan ilmu), beliau bertanya: “Apa yang sedang kalian bicarakan?” Mereka menjawab: “Kami sedang membicarakan hari kiamat.” Beliau berkata: “Sesungguhnya kiamat itu tidak datang sebelum munculnya sepuluh tanda.” Kemudian beliau menyebut:Asap, Dajjal, binatang, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa putra Maryam, Ya’juj, Tiga gerhana: satu terjadi di timur, satu di barat dan satu di jazirah Arab, dan yang terakhir adalah keluarnya api dari Yaman yang menggiring manusia menuju tempat berkumpul mereka. (HR. Muslim).

Sa’ah (hari kiamat) adalah hari keluarnya manusia dari kubur dengan perintah tuhan mereka untuk dihisab, maka orang-orang yang baik akan mendapat kenikmatan, sedangkan mereka yang jahat akan diadzab. Allah berfirman:

“(Yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia).” (Al-Ma’arij:43).

Hari ini disebutkan dalam Al-Qur’an dengan beberapa nama, yaiyu ;

  1. Yaumul qiyamah (hari kiamat) (QS.Al-Qiyamah:1)
  2. Al-Qori’ah, yaumulhisab (hari perhitungan amal) (QS.Al-Qori’ah: 1-2).
  3. Yaumu din (hari pembalasan) (QS. Shad:26)
  4. Ath-Thamah (malapetaka yang sangat besar) (QS.An-Naziat:34)
  5. Al-Waqi’ah, Al-Haqqaah (yang pasti terjadi) (QS.Al-Waqiah:1 dan QS.Al-Haqqah:1-2).).
  6. Ash-Shakhah (suara yang memekakkan) (QS.’Abasa: 33)
  7. Al-Ghasyiah (hari pembalasan) (QS.Al-Ghasyiah:1) dan sebagainya.

Cara beriman kepada hari akhirat

Beriman kepada hari akhirat memiliki dua cara; global dan terperinci. Adapun secara global yaitu: Kita mengimani adanya satu hari dimana Allah mengumpulkan pada hari itu seluruh manusia, mulai dari Adam sampai manusia paling terakhir, masing-masing mereka akan mendapatkan balasan amalannya, sebagian menjadi penghuni surga dan sebagian lagi masuk neraka.

Allah berfirman:

“Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.” (QS.Al-Waqi’ah:49-50).

Sedangkan, Iman secara terperinci adalah: Mengimani secara mendetail setiap peristiwa sesudah kematian yang mencakup hal-hal berikut ini:

Pertama: Fitnah kubur.

Ketika mayit ditanya sesudah dikuburkan, tentang tuhannya, agamanya dan nabinya Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Maka Allah memantapkan orang-orang beriman dengan jawaban yang mantap, sebagaimana yang tercantum dalam sebuah hadits ketika mayit ditanya ia mampu menjawab dengan mengatakan:

((رَبِّيَ اللهُ، وَدِيْنِي الإِسْلاَمُ وَنَبِيِّ مُحَمَّدٌ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ))

“Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam dan nabiku adalah Muhammadshallallahu alaihi wasallam.” (Muttafaq alaih).

Kedua: Siksa kubur dan kenikmatannya.

Beriman kepada adanya adzab kubur dan kenikmatannya, bahwasanya kubur itu bisa berupa lubang neraka atau salah satu taman surga. Kubur adalah persinggahan pertama untuk menuju akhirat, barangsiapa yang selamat padanya maka yang sesudahnya akan lebih mudah, dan barangsiapa yang tidak selamat maka yang sesudahnya akan lebih sulit. Barangsiapa yang mati berarti telah datang kiamatnya.

Kenikmatan dan adzab kubur dirasakan oleh ruh dan jasad, dan kadang-kadang hanya ruh yang merasakannya. Adzab kubur ditimpakan untuk orang-orang yang dzalim dan kenikmatannya dianugerahkan untuk orang mukmin yang benar.

Mayit akan disiksa di alam barzakh atau diberi kenikmatan, baik mayit itu dikubur ataupun tidak. Seandainya mayit itu dibakar, tenggelam atau dimakan binatang buas atau burung, maka pasti ia akan merasakan adzab atau kenikmatan tersebut.

Allah berfirman:

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkan Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS.Al-Mukmin:46).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(( فَلَوْ لاَ أَنْ لاَ تَدَافَنُوْا لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ ))

“Kalau saja kalian tidak saling menguburkan, pasti aku memohon kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian adzab kubur.” (HR Muslim).

Ketiga:

Sangkakala adalah terompet berbentuk tanduk yang akan ditiup oleh Isrofil alihis salam, pada tiupan pertama seluruh makhluk menjadi mati kecuali yang dikehendaki Allah untuk tetap hidup, tiupan kedua seluruh makhluk sejak Allah menciptakan dunia ini hingga terjadinya kiamat, bangkit dari kubur mereka. Allah berfirman:

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang mati di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-zumar:68).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(( ثُمَّ يُنْفَخُ فِيْ الصُّوْرِ فَلاَ يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلاَّ أَصْغَى لِيْتًا وَرَفَعَ لِيْتًا، ثُمَّ لاَ يَبْقَى أَحَدٌ إِلاَّ صَعِقَ، ثُمَّ يُنْزِلُ اللهُ المَطَرَ الطِّلَّ، فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ، ثُمَّ يُنْفَخُ فَيْهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُوْنَ ))

“Kemudian sangkakala pun ditiup, maka tidak seorangpun yang mendengar kecuali mendengarkannya dan mengangkat lehernya, kemudian semuanya mati, lalu Allah menurunkan hujan gerimis, maka tubuh-tubuh manusia tumbuh kembali, kemudian ditiupkan lagi sangkakala itu, maka tiba-tiba mereka semua berdiri menyaksikan.”(HR Muslim).

Keempat: Kebangkitan

Allah menghidupkan semua yang mati, ketika ditiupkan sangkakala yang kedua kalinya, maka manusia-pun berdiri menuju Allah tuhan semesta alam. Apabila Allah telah mengizinkan untuk ditiupnya sangkakala dan kembalinya ruh ke jasad, pada waktu itu seluruh manusia bangkit dari kubur mereka dan berjalan dengan cepat menuju tempat berkumpul dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, tidak dikhitan, dan tidak membawa apa-apa. Masa berkumpul ini cukup lama, sementara matahari sangat dekat jaraknya, dan ditambah kadar panasnya. Keringat manusia menggenang karena dahsyatnya masa menunggu ini, ada yang keringatnya sampai mata kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai pinggang, ada yang sampai dada, ada yang sampai pundak dan ada yang tenggelam oleh keringat, itu semua tergantung amal mereka.

Kebangkitan dari kubur pasti akan terjadi, berdasarkan dalil Al-Quran dan sunnah, realita dan akal:

Adapun Al-Quran dan sunnah: maka ayat-ayat yang berbicara tentang hal itu banyak sekali, demikian juga hadits-hadits shahih yang menunjukkan kebenarannya. Allah berfirman:

“Katakanlah: Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan.” (QS.At-Taghabun:7).

Dalam firman-Nya yang lain:

“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya.” (QS.Al-Anbiya: 104).

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(( ثُمَّ يُنْفَخُ فِيْ الصُّوْرِ فَلاَ يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلاَّ أَصْغَى لِيْتًا وَرَفَعَ لِيْتًا، ثُمَّ لاَ يَبْقَى أَحَدٌ إِلاَّ صَعِقَ، ثُمَّ يُنْزِلُ اللهُ المَطَرَ كَأَنَّهُ الطِّلُّ أَوْ الظِّلُّ –شك الراوي- فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ، ثُمَّ يُنْفَخُ فَيْهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُوْنَ ))

“Kemudian ditiuplah sangkakala, maka tidak seorangpun yang mendengar kecuali dia mendengarkan dan mengangkat lehernya, kemudian tidak seorangpun yang tersisa kecuali pasti mati, kemudian Allah menurunkan hujan gerimis, atau permulaan musim hujan – perawi ragu – maka tumbuhlah (bangkitlah) tubuh-tubuh manusia, kemudian ditiupkan lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menyaksikan.” (HR. Muslim).

Kelima: Pengumpulan, perhitungan dan pembalasan.

Kita mengimani bahwa jasad-jasad ini akan dikumpulkan, akan ditanya dan dihitung amalnya dengan adil dan diberikan kepada makhluk balasan atas amalannya. Allah ta’ala berfirman:

“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitab dari sebelah kanannya, maka dia berkata: ‘Ambillah, bacalah kitabku (ini)’. Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai.” (QS.Al-Haqqah:19-21).

Yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah umat nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, diantara mereka tujuh puluh ribu orang masuk surga tanpa dihisab dan tanpa diadzab dikarenakan kesempurnaan tauhid mereka. Mereka itulah yang pernah disebutkan ciri-cirinya oleh nabi:

((لاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَكْتَوُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ))

“Mereka yang tidak meminta diruqyah (dimantra dengan do’a), tidak berobat dengan cara kaiy (dengan besi panas), tidak percaya pada khurafat burung dan kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal.”

Adapun amalan yang berhubungan dengan hak Allah yang pertama dihisab adalah salat, dan amal yang berhubungan dengan hak manusia yang pertama dihisab adalah permasalahan darah (pembunuhan).

Keenam: Haudh (Telaga di surga)

Kita mengimani adanya telaga Nabi shallallahu alaihi wasallam, yaitu telaga yang besar dan tempat minum yang mulia, Airnya mengalir dari sungai Al-Kautsar dari dalam surga yang hanya akan diminum oleh orang-orang beriman dari umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Sebagian dari ciri-cirinya: Airnya lebih putih dari susu, lebih dingin dari es, lebih manis dari madu, lebih wangi dari kesturi, sangat luas, lebar dan panjangnya sama, dari ujung ke ujung jarak perjalanan selama sebulan, padanya terdapat dua saluran air yang memanjang dari surga, gelas-gelasnya lebih banyak dari jumlah bintang-bintang di langit, dan barangsiapa yang meminumnya tidak akan pernah haus selamanya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(( حَوْضِيْ مَسِيْرَةُ شَهْرٍ، مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ وَرِيْحُهُ أَطْيَبُ مِنَ المِسْكِ، وَكِيْزَانُهُ كَنُجُوْمِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا ))

“Telagaku luasnya sepanjang perjalanan sebulan, airnya lebih putih dari susu, wanginya melebihi kesturi, gelasnya seperti jumlah bintang-bintang di langit, barangsiapa yang meminumnya tidak akan pernah haus selamanya.” (HR. Bukhari).

Ketujuh: Syafa’at

Ketika manusia sedang mengalami kesulitan yang luar biasa di tempat penantian untuk dihisab ditambah sangat panjangnya masa penantiaan, mereka mencari orang yang bisa memberi syafa’at di hadapan Tuhan mereka untuk membebaskan mereka dari kesulitan dan rasa takut pada hari itu. Semua Rasul Ulul Azmi menolak untuk memberi syafa’at, hingga mereka sampai kepada Rasul terakhir Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang mana Allah telah mengampuni seluruh dosa-dosanya di masa lalu ataupun yang akan datang. Maka berdirilah beliau di tempat yang mulia yang didambakan oleh semua orang terdahulu dan sekarang serta nampaklah kedudukan beliau yang agung dan derajat yang tinggi. Kemudian bersujudlah beliau di bawah arsy dan Allah mengilhamkan kepadanya pujian-pujian untuk memuji-Nya dan mengagungkan-Nya, lalu beliau meminta izin Tuhannya dan beliaupun diizinkan untuk memberi syafa’at kepada hamba-hamba untuk melepaskan mereka dari kesulitan dan kegelisahan yang tidak sanggup mereka pikul.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(( إِنَّ الشَّمْسَ تَدْنُو يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يَبْلُغَ الْعَرَقُ نِصْفَ الأُذُنِ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ، اسْتَغَاثُوْا بِآدَمَ ثُمَّ بِإِبْرَاهِيْمَ ثُمَّ بِمُوْسَى ثُمَّ بِعِيْسَى ثُمَّ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَشْفَعُ لِيُقْضَى بَيْنَ الخَلْقِ، فَيَمْشِي حَتَّى يَأْخُذَ بِحَلْقَةِ البَابِ، فَيَوْمَئِذٍ يَبْعَثُهُ اللهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا يَحْمَدُهُ أَهْلُ الجَمْعِ كُلُّهُمْ ))

“Sesungguhnya matahari pada hari kiamat sangat dekat hingga ada yang keringatnya sampai di tengah telinga, ketika mereka dalam keadaan seperti itu mereka mencari pertolongan kepada Adam kemudian Ibrahim kemudian Musa kemudian Isa kemudian Muhammad shallallahu alaihi wasallam, beliaulah yang memberikan syafa’at untuk dipercepat putusan hukum antara makhluk, kemudian beliau berjalan hingga memegangi gagang pintu, maka hari itulah Allah menempatkannya di maqam mahmuda (tempat yang mulia) yang dimuliakan oleh seluruh yang hadir.” (HR. Bukhari).

Kedelapan: Mizan (Timbangan amal).

Mizan itu haq, wajib diimani adanya, mizan itu adalah timbangan yang diletakkan oleh Allah untuk menimbang amal manusia di hari kiamat, untuk kemudian membalasnya sesuai dengan amalnya. Timbangan ini hissi (dapat dilihat dengan panca indra), mempunyai dua sisi timbangan dan bagian yang melintang, untuk menimbang amal atau buku catatan amal atau sipelaku amal itu sendiri. Ketiga-tiganya mungkin ditimbang, tetapi yang menjadi ukuran berat atau tidak adalah amal, bukan pelakunya atau buku catatan tersebut. Allah berfirman:

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti akan Kami mendatangkan (pahala)nya dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS.Al-Anbiya’:47).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(( يُوْضَعُ المِيْزَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَلَوْ وُزِنَ فِيْهِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ لَوَسِعَتْ ))

“Akan diletakkan timbangan pada hari kiamat, kalaulah langit dan bumi ditimbang niscaya akan cukup.” (HR. Hakim).

Kesembilan: Shirath

Kita mengimani adanya shirath, yaitu jembatan yang dipasang di atas neraka Jahannam dengan jalan yang sangat menakutkan, semua manusia akan melewatinya untuk menuju ke surga. Di antara mereka ada yang melaluinya dengan sekejap mata, ada pula yang melaluinya secepat kilat, ada yang seperti angin, ada yang seperti burung, ada yang secepat lari kuda, ada juga yang berlari, atau berjalan, ada pula yang merangkak, dan ada yang diseret, semuanya berjalan sesuai dengan amalnya hingga seseorang yang berjalan dengan sinar yang hanya sebesar ibu jari kakinya. Di antara mereka ada yang diambil kemudian dilempar ke dalam neraka, barangsiapa yang dapat melewati shirath ini, maka ia masuk surga.

Orang yang pertama kali menyeberang shirath ini adalah nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, kemudian diikuti oleh umatnya. Hari itu tidak ada yang angkat bicara kecuali para rasul, dan do’a para rasul hari itu adalah: “Ya Allah selamatkan, selamatkan.” Neraka Jahannam memiliki besi-besi ranjau (hanya Allah yang mengetahui jumlahnya), terletak di kanan kiri shirath yang akan menarik siapa yang Allah kehendaki ke dalamnya.

Sifat-sifat shirath: Lebih tajam dari pedang, lebih halus dari rambut, licin, tidak ada kaki yang dapat tetap berjalan di atasnya kecuali dengan izin Allah, diletakkan di tempat yang gelap, dan dikirimkan amanah dan rahim (kekerabatan) berdiri di samping kiri kanan shirath untuk menjadi saksi siapa saja yang menjaganya atau yang mengabaikannya. Allah berfirman:

“Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.”(QS.Maryam:71-72).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(( وَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ جَهَنَّمَ فَأَكُوْنُ أَنَا وَأُمَّتِيْ أَوَّلَ مَنْ يُجِيْزُهُ ))

“Shirath diletakkan diatas neraka Jahannam, maka aku dan umatkulah yang kali pertama akan melewatinya.” (HR. Muslim).

Kesepuluh: Qintharah (Tempat Pemberhentian antara surga dan neraka).

Kita wajib mengimani bahwa jika orang-orang mukmin sudah berhasil melewati shirath, mereka akan berhenti di Qintharah. Yaitu sebuah tempat di antara surga dan neraka, di mana orang-orang mukmin akan dihentikan di sini setelah berhasil melewati shirath dan selamat dari neraka, untuk diputuskan permasalahan yang terjadi di antara mereka (kezaliman-kezaliman yang terjadi antara mereka di dunia) sebelum mereka memasuki surga. Manakala mereka sudah bersih dan suci maka baru diizinkan untuk memasuki surga.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَخْلَصُ المُؤْمِنُوْنَ مِنَ النَّارِ فَيُحْبَسُوْنَ عَلَى قِنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، فَيُقْتَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضِ مَظَالِمَ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِيْ الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا هُذِبُوْا وَنُقُّوْا أُذِنَ لَهُمْ فِيْ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ، فَوَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْـِزِلِهِ فِيْ الجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْـزِلِهِ كَانَ فِيْ الدُّنْيَا

“Ketika orang-orang mukmin itu sudah selamat melewati neraka, mereka dihentikan di sebuah tempat yang terletak antara surga dan neraka, maka diselesaikanlah permasalahan (kezaliman-kezaliman) yang dulu pernah ada di antara mereka di dunia, hingga manakala mereka sudah dibersihkan dan disucikan, baru diizinkan untuk memasuki surga, maka demi yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, salah seorang dari mereka lebih tahu dengan tempat tinggalnya di surga daripada tempat tinggalnya sewaktu di dunia.” (HR. Bukhari).

Kesebelas: Surga dan Neraka.

Kita mengimani bahwasanya surga itu benar adanya demikian juga neraka, dan bahwasanya keduanya sudah ada, tidak akan pernah rusak dan punah, bahkan keberadaannya abadi. Begitu juga kenikmatan ahli surga tidak akan pernah habis dan hilang. Siksaan ahli neraka yang telah diputuskan oleh Allah untuk kekal di dalamnya tidak akan pernah habis dan berhenti.

Adapun orang-orang yang bertauhid maka mereka akan keluar dari nereka dengan syafa’at orang-orang yang memberi syafa’at dan atas rahmat Allah Yang Maha Penyayang.

Surga adalah tempat mulia yang Allah sediakan untuk orang-orang bertaqwa pada hari kiamat nanti. Di dalamnya ada sungai-sungai yang mengalir, kamar-kamar yang megah, dan istri-istri yang cantik. Di dalamnya terdapat apa saja yang diinginkan oleh jiwa dan disenangi oleh mata memandang, kenikmatannya tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terdetik di hati manusia. Kenikmatannya tidak akan pernah habis dan punah. Mereka akan kekal dalam kenikmatan tersebut tanpa ada hentinya. Tempat untuk meletakkan sebuah cemeti di sana lebih baik dari dunia dan seisinya. Wanginya bisa dicium dari jarak perjalanan 40 tahun. Kenikmatan yang paling besar adalah ketika orang-orang mukmin bisa melihat Tuhan mereka secara langsung dengan mata kepala mereka.

Allah berfirman:

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya” (QS.Al-Bayyinah:8).

Adapun neraka: adalah tempat adzab, yang Allah sediakan untuk orang-orang kafir dan yang berbuat maksiat. Di dalamnya terdapat berbagai macam siksaan dan beragam hukuman. Penjaganya malaikat yang sangat kasar dan keras. Orang-orang kafir akan kekal di dalamnya, makanan mereka Zaqqum (sebuah pohon dalam neraka, buahnya sangat pahit dan busuk baunya), dan minuman mereka hamim (air panas yang mendidih), api dunia ini hanya merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panasnya api Jahannam, api Jahannam lebih panas enam puluh sembilan kali dari api dunia dimana setiap bagiannya sama panasnya dengan api dunia atau lebih.

Allah berfirman tentang neraka:

“Sesungguhya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”(QS.Al-Ahzab:64-65).

Hikmah beriman kepada hari akhirat

Beriman kepada hari akhirat mengandung banyak hikmah dan faedah, diantaranya:

  1. Menimbulkan keinginan yang tinggi untuk melakukan ketaatan dan senantiasa berusaha untuk itu demi mengharapkan pahala.
  2. Menimbulkan rasa takut untuk melakukan kemaksiatan atau meridhai perbuatan maksiat, karena takut akan siksaan pada hari tersebut.
  3. Menghibur orang-orang yang mukmin karena kenikmatan dunia yang luput dari mereka, lantaran mengharap kenikmatan akhirat dan pahalanya.
  4. Beriman kepada hari kebangkitan merupakan pangkal kebahagiaan individu dan masyarakat. Karena apabila manusia beriman bahwasanya Allah akan membangkitkan seluruh makhluk setelah kematian mereka dan membalas seluruh amal mereka serta mengambil hak orang yang didzalimi dari orang yang mendzalimi hingga dari binatang sekalipun, maka ia akan istiqamah taat kepada Allah, dengan demikian akan lenyaplah kejahatan dan akan tersebarlah kebaikan di masyarakat serta akan membahana keutamaan dan ketenangan.

6. BERIMAN KEPADA TAQDIR

Taqdir adalah: Ketentuan Allah untuk seluruh yang ada sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. Taqdir ini kembali kepada kudrat (kekuasaan) Allah, sesungguhnya Dia atas segala sesuatu maha kuasa, dan berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

Iman kepada taqdir merupakan bagian dari iman kepada rububiyah Allah subhanahu wataala dan merupakan salah satu dari rukun iman yang tidak akan sempurna keimanan seseorang tanpanya.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS.Al-Qomar: 49).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(( كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى العَجْزِ وَالْكَيِّسِ، أَوْ الكَيِّسِ وَالْعَجْزِ ))

“Segala sesuatu sudah ditaqdirkan hingga orang yang lemah dan cerdik atau orang cerdik dan lemah.” (HR. Muslim).

Tingkatan Takdir

Tidak sempurna keimanan kepada taqdir kecuali dengan meyakini empat tingkatan:

Pertama: Beriman kepada ilmu Allah yang Azali, yang meliputi segala sesuatu. Allah berfirman:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS.Al-Hajj:70).

Kedua: Beriman kepada penulisan ilmu Allah atas taqdir segala sesuatu di Lauh Mahfudz. Allah berfirman:

“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam al Kitab.” (QS.Al-An’am:38).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

(( كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ ))

“Allah telah menulis taqdir (ketentuan yang akan berlaku kepada) seluruh makhluk sebelum Dia menciptakan langit dan bumi lima puluh ribu tahun.” (HR. Muslim).

Ketiga: Beriman kepada kehendak Allah yang pasti terlaksana dan kekuasaan-Nya yang menyeluruh. Allah berfirman:

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS.At-Takwir: 29)

Keempat: Beriman bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu.

Allah berfirman:

“Padahal Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS.Ash-Shaffat:96).

Rasululullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(( إِنَّ اللهَ يَصْنَعُ كُلَّ صَانِعٍ وَصُنْعَتَهُ ))

“Sesungguhnya Allahlah yang menciptakan setiap orang yang bekerja dan pekerjaannya itu.” (HR. Bukhari).

  • Taqdir umum untuk seluruh makhluk, dan Allah menulisnya di lauh mahfudz lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.
  • Taqdir sepanjang umur, yaitu setiap yang terjadi pada seorang hamba dari sejak ditiupkan ruh kepadanya hingga akhir ajalnya.
  • Taqdir tahunan, Yaitu taqdir terhadap apa yang akan terjadi setiap tahun, ia ditentukan pada malam lailatul qadar setiap tahun.

Macam-macam Taqdir:

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS.Ad-Dukhan: 4).

  • Taqdir harian, yaitu taqdir terhadap apa yang terjadi setiap hari, berupa mulia dan hina, diberi dan tidak, hidup dan mati dan lain sebagainya.

Allah berfirman:

“Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS.Ar-Rahman:29).

Akidah salaf tentang Takdir

Sesungguhnya Allah adalah pencipta segala sesuatu, pengatur dan pemiliknya, Dia telah mentaqdirkan semua ketentuan yang akan berlaku terhadap seluruh makhluk sebelum menciptakan mereka, baik berupa ajal, rezki, amalan dan akhir dari kehidupan mereka berupa kebahagiaan atau kesengsaraan, semuanya sudah tercatat di Lauh mahfudz. Segala apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan segala yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi, Dia mengetahui yang telah terjadi, yang sedang dan akan terjadi, kalau seandainya terjadi Dia tahu bagaimana akan terjadi. Dia maha kuasa atas segala sesuatu, memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Dan setiap hamba memiliki keinginan dan kemampuan untuk berbuat sebagaimana yang telah ditaqdirkan Allah bagi mereka, dengan keyakinan bahwa seorang hamba tidak berkeinginan kecuali apabila Allah menginginkan.

Allah berfirman:

“Dan orang –orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS.Al-Ankabut: 69).

Dan sesungguhnya Allah adalah pencipta seluruh hamba dan perbuatan mereka, dan merekalah pelaku perbuatan tersebut. Maka tidak ada hujjah bagi siapapun yang meninggalkan kewajiban atau melakukan hal yang diharamkan, tetapi Allah lah yang memiliki hujjah yang benar atas hamba-Nya. Boleh berhujjah dengan taqdir atas musibah yang menimpa, bukan atas kejelekan dan dosa yang diperbuat.Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Rasul shallallahu alaihi wasallam tentang hujjah Musa kepada Adam:

(( تَحَاجَّ آدَمُ وَمُوْسَى، فَقَالَ مُوْسَى: أَنْتَ آدَمُ الَّذِيْ أَخْرَجَتْكَ خَطِيْئَتُكَ مِنَ الجَنَّةِ، فَقَالَ لَهُ آدَمُ: أَنْتَ مُوْسَى الَّذِيْ اصْطَفَاكَ اللهُ بِرِسَالَتِهِ وَبِكَلاَمِهِ ثُمَّ تَلُوْمُنِيْ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِّرَ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُخْلَقَ فَحَجَّ آدَمُ مُوْسَى ))

“Adam dan Musa pernah saling berhujjah, Musa berkata: Kamu hai Adam yang telah diusir dari surga karena dosamu. Maka Adampun berkata kepadanya: “Kamu hai Musa yang telah Allah pilih dengan risalah-Nya dan kalam-Nya, kemudian kamu mencelaku terhadap suatu urusan yang telah ditaqdirkan untukku sebelum aku diciptakan. Maka Adampun mengalahkan hujjah Musa.” (HR. Muslim).

Perbuatan Manusia

Perbuatan yang Allah ciptakan di alam ini terbagi dua:

Pertama: Perbuatan-perbuatan yang diberlakukan oleh Allah ta’ala terhadap makhluk-Nya, maka dalam hal ini tidak ada pilihan dan kehendak bagi seorangpun, tetapi semuanya atas kehendak Allah. Seperti mematikan, menghidupkan, sakit dan sehat.

Allah berfirman:

“Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS.Ash-Shaffat:96).

Kewajiban seorang hamba terhadap taqdir.

Seorang hamba memiliki dua kewajiban terhadap masalah taqdir:

Pertama: Memohon pertolongan Allah untuk bisa melaksanakan perbuatan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang, juga berdo’a agar dimudahkan serta dijauhkan dari kesulitan dan bertawakal kepada-Nya serta memohon perlindungan kepada-Nya. Dengan demikian ia memiliki ketergantungan kepada Allah dalam usahanya untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan kejahatan. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

(( اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ:
لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ))

“Berusahalah untuk sesuatu yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan kamu lemah, dan jika kamu ditimpa suatu musibah maka jangan kamu berkata: kalau saja saya berbuat begitu dan begini maka pasti hasilnya akan begini dan begitu. Tetapi katakanlah: Allah telah mentaqdirkannya dan apa yang Dia kehendaki pasti akan Dia lakukan. Karena sesungguhnya berandai-andai akan membuka amal setan.”+

Kedua: Harus bersabar menerima apa yang telah ditaqdirkan dan tidak gelisah, serta mengetahui bahwa hal itu dari Allah supaya ia rela dan pasrah. Serta mengetahui bahwa apa yang akan menimpanya pasti terjadi, dan apa yang tidak akan menimpanya juga pasti tidak menimpanya. Sebagaimana sabda Nabi:

(( وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ ))

“Dan ketahuilah bahwa apa yang akan menimpamu pasti akan terjadi dan apa yang tidak akan menimpamu juga pasti tidak akan menimpamu.”

Ikhlas terhadap Takdir

Ridha terhadap taqdir adalah suatu keharusan; karena itu merupakan kesempurnaan ridha dengan rububiyah Allah. Maka setiap mukmin harus ridha dengan qadha’ Allah; karena perbuatan Allah dan qadha’-Nya semua baik dan adil serta hikmah, barangsiapa yang dirinya meyakini bahwa apa saja yang akan menimpanya tidak akan meleset dan apa yang tidak akan menimpanya pasti tidak akan menimpanya, dia akan terlepas dari rasa bingung dan ragu-ragu serta kegelisahan, dan kegoncangan dalam hidupnya pun akan lenyap. Maka dia tidak akan bersedih atas apa yang luput darinya, dan tidak takut dengan masa depannya, dengan demikian dia akan menjadi manusia paling bahagia, memiliki jiwa yang paling baik dan mempunyai pikiran yang paling tenang.

Barangsiapa yang menyadari bahwa ajalnya sudah ditentukan, rezkinya sudah dibatasi, rasa takut tidak akan menambah umurnya, dan kekikiran tidak akan menambah rezkinya, karena semuanya telah dicatat, maka dia akan bersabar atas segala musibah yang menimpa, dan beristighfar atas segala dosa dan kemaksiatan yang telah dilakukan, serta ridha dengan taqdir Allah, dengan demikian dia telah menggabungkan antara mentaati perintah Allah dan bersabar terhadap segala musibah. Allah berfirman:

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, nicaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.At-Taghabun:11).

Macam-MACAM Hidayah

Pertama: Hidayah bimbingan dan arahan kepada kebenaran, ini untuk semua makhluk. Hidayah inilah yang sanggup dilakukan oleh para rasul dan pengikut mereka. Allah berfirman:“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS.Asy-Syura:52).

Kedua: Hidayah taufik dan tastbit (keteguhan hati) dari Allah. Hidayah ini adalah anugerah dan karunia dari Allah untuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Hidayah ini hanya dimiliki oleh Allah, tidak ada yang sanggup memberikannya kecuali Dia. Allah berfirman:

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allahlah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (QS.Al-Qashash:56).

Iradah (kehendak) di dalam kitab Allah ada dua macam:

Pertama: Iradah kauniyah qadariyah, yaitu kehendak yang meliputi semua yang ada, apa saja yang Allah kehendaki pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi. Iradah ini memastikan terjadinya apa yang dimaksud, tetapi tidak berarti hal tersebut pasti dicintai dan diridhai, kecuali jika berhubungan dengan iradah syar’iyyah. Allah berfirman:

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapang-kan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.” (QS.Al-An’am:125).

Kedua:Iradah diniyah syar’iyah, yaitu kecintaan terhadap suatu yang dimaksud dan terhadap pelakunya serta ridha kepada mereka, tetapi tidak berarti hal yang dimaksud tersebut pasti terjadi, kecuali jika dibarengi dengan iradah kauniyah. Allah berfirman:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah:185).

Iradah kauniyah lebih umum, karena setiap segala yang dimaksud secara syar’i yang terjadi berarti hal tersebut dikehendaki secara kauniyah, dan tidaklah setiap yang dimaksudkan secara kauni yang terjadi berarti dimaksudkan secara syar’i.

Sebab-sebab yang dapat menolak taqdir.

Allah subhanahu wata’ala menjadikan beberapa hal yang mampu menolak terjadinya taqdir dan mengangkatnya, yaitu berupa do’a, sadaqah, obat-obatan, kehati-hatian dan tekad, karena hakikat semuanya itu adalah qadha’ dan taqdir Allah hingga kepandiran dan kepintaran.

Masalah Taqdir adalah rahasia Allah pada makhlukNya.

Pernyataan bahwa taqdir adalah merupakan rahasia Allah pada makhluk-Nya, terbatas pada aspek yang tersembunyi pada qadar. Hakikat dari segala sesuatu tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah semata, dan tidak dapat diketahui oleh manusia, seperti bahwasanya Allah menyesatkan, memberi petunjuk, menghidupkan, mematikan, memberi, menahan. sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(( إِذَا ذُكِرَ الْقَدَرُ فَأَمْسِكُوْا ))

“Jika disebut tentang taqdir maka diamlah kalian.” (HR. Muslim).

Adapun aspek-aspek lain dari taqdir, berupa hikmahnya yang besar, tingkatannya, derajatnya dan dampaknya, semua ini termasuk hal yang bisa dijelaskan kepada manusia dan boleh diketahuinya, karena taqdir adalah salah satu dari rukun iman yang harus diketahui dan dipelajari. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjelaskan rukun-rukun iman kepada Jibril:

(( هَذَا جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ ))

“Ini adalah Jibril yang datang kepada kamu untuk mengajarkan agama kamu.” (HR. Muslim).

Beralasan dengan taqdir.

Ilmu Allah ta’ala terhadap apa yang akan terjadi merupakan hal yang gaib, tidak ada yang tahu kecuali Dia, tidak seorangpun di antara hamba yang mengetahuinya, maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk berhujjah dengan taqdir, dan tidak boleh meninggalkan amal dengan bersandar kepada taqdir. Taqdir tidak bisa dijadikan oleh seorang hamba sebagai hujjah atas Allah, juga atas sesama makhluk, karena kalau seseorang boleh beralasan dengan taqdir atas kejahatan yang dia lakukan, maka orang yang dzalim tidak bakal akan dihukum, orang musyrik tidak akan dibunuh, tidak akan ada penegakan hukum, dan si dzalim tidak bisa dilarang dari kedzalimannya, dan ini adalah kerusakan nyata dan berbahaya bagi agama dan kehidupan dunia.

Kita katakan kepada yang beralasan dengan taqdir: kamu tidak mempunyai ilmu yang pasti bahwa kamu termasuk ahli surga atau neraka, kalau kamu mempunyai ilmu itu kita tidak akan memerintahkanmu dan tidak melarangmu, tetapi beramallah semoga Allah memberikan taufik-Nya kepadamu dan menjadikanmu termasuk ahli surga.

Sebagian sahabat berkata setelah mendengar hadist-hadist tentang taqdir: “Sekarang saya lebih bersungguh-sungguh (beribadah) dibandingkan dahulu.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda ketika ditanya tentang beralasan dengan taqdir: “Beramallah, karena setiap kalian akan dimudahkan untuk menuju taqdirnya (apa yang telah ditentukan untuknya), barangsiapa yang dicatat sebagai orang yang bahagia dia akan dimudahkan untuk beramal amalan orang yang akan bahagia, dan barang siapa yang dicatat sebagai orang yang celaka dia akan dimudahkan untuk mengerjakan perbuatan orang yang celaka. Kemudian beliau membaca:

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS.Al-Lail:5-10).

Melakukan sebab (ikhtiyar).

Pertama: hal yang mungkin diselesaikan (ada jalan keluarnya) maka janganlah dia lemah dalam berusaha untuk mencari penyelesaiannya.

Kedua: hal yang tidak mungkin dia cari penyelesaiannya (jalan keluarnya), maka dalam hal ini dia tidak perlu gelisah. Karena Allah subhanahu wata’ala mengetahui seluruh musibah sebelum ia terjadi, dan ilmu Allah tentang musibah itu bukan berarti Dialah yang telah menjatuhkan hamba tersebut ke dalam musibah, akan tetapi musibah itu terjadi karena sebab yang menyebabkan terjadinya musibah tersebut. Kalau musibah itu menimpanya karena dia mengabaikan sebab-sebab dan faktor-faktor yang akan membuat dia terlindung dari musibah dan hal itu diperintahkan dalam agama, maka dialah yang bersalah karena tidak berusaha mewujudkan sebab-sebab yang akan melindunginya dari musibah tersebut. Adapun musibah yang dia sendiri tidak sanggup mengatasinya maka dia bisa ditolerir. Mengusahakan sebab tidak berlawanan dengan taqdir dan tawakal bahkan ia termasuk dalam bagiannya. Akan tetapi jika taqdir telah terjadi, maka dia wajib ridha dan berserah diri, serta kembali kepada perkataan:

(( قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ ))

“Allah telah mentaqdirkan, Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.”

Adapun sebelum taqdir itu terjadi, maka tugas seorang hamba adalah berusaha untuk menjalani sebab yang masyru’, dan menolak taqdir dengan taqdir. Para nabi dulu juga mengusahakan sebab dan sarana yang akan melindungi mereka dari musuh-musuh mereka, padahal mereka itu diperkuat dengan mu’jizat dan penjagaan dari Allah. Demikian juga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai pemimpin orang-orang yang bertawakal, berusaha untuk mengambil sebab walaupun beliau adalah orang yang paling kuat tawakkalnya.

Allah berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan perisapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu.” (QS.Al-Anfal: 60).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(( المُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ،اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ:
لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ))

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah dan pada masing-masing ada kebaikan, berusahalah untuk apa saja yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu lemah. Dan jika kamu ditimpa sesuatu musibah maka jangan kamu berkata: seandainya aku berbuat begini pasti akan begini dan begitu, akan tetapi katakanlah: Allah telah mentaqdirkan, apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, karena berandai-berandai itu membuka amalan setan.” (HR. Muslim).

Hukum bagi yang menginkari taqdir.

Barangsiapa yang menginkari taqdir, sungguh ia telah menginkari salah satu landasan pokok syari’ah dan ia telah kafir karenanya. Sebagian ulama’ salaf berkata: “Debatlah Qadariyah dengan ilmu, jika mereka mengingkarinya maka mereka telah kafir, dan jika mereka mengakuinya maka mereka membantah.”

Hikmah beriman kepada taqdir

Beriman kepada taqdir membuahkan hasil dan dampak yang baik untuk umat dan individu, diantaranya:

  1. Akan membuahkan berbagai macam amal saleh dan sifat yang terpuji, seperti ikhlas, tawakal, rasa takut dan pengharapan kepada Allah, berbaik sangka kepada-Nya, sabar dan tabah, menghilangkan rasa putus asa, ridha dengan Allah, hanya bersyukur kepada Allah, dan senang dengan karunia dan rahmat-Nya, tawadhu’ kepada-Nya, meninggalkan kesombongan dan keangkuhan, mendorong untuk berinfak di jalan kebaikan karena tsiqah (percaya) kepada Allah, berani, qana’ah (menerima yang ada) dan memiliki harga diri, tekad yang tinggi, tegas, kesungguhan dalam segala permasalahan, bersikap menengah dalam suka atau duka, selamat dari hasad dan penolakan, bebasnya akal dari khurafat dan berbagai kebatilan, kelapangan jiwa dan ketenangan hati.
  2. Seorang mukmin dengan taqdir akan berjalan dalam hidupnya di atas jalan kebenaran, nikmat tidak akan membuat dia menjadi sombong, dan musibah tidak akan membuat dia berputus asa serta meyakini bahwa segala kesulitan yang menimpanya adalah merupakan taqdir dan ujian dari Allah, dengan demikian dia akan bersabar dan tabah dan tidak akan gelisah.
  3. Beriman kepada taqdir, melindunginya dari sebab-sebab yang menjerumuskan kepada kesesatan dan suul khatimah(pengakhiran hidup yang jelek), karena taqdir membuat seseorang senantiasa bersungguh-sungguh untuk istiqamah, memperba-nyak amal saleh dan menjauhi kemaksiatan dan penyebab kehancuran.
  4. Menumbuhkan pada jiwa orang-orang beriman keteguhan hati dan keyakinan yang mantap disamping mengusahakan sebab dalam menghadapi musibah dan berbagai kesulitan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(( عَجَبًا لِأَمْرِ المُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ))

“Sungguh mengherankan urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya baik dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh mukmin, jika ia mendapatkan nikmat ia bersyukur dan itu baik buat dia, dan jika mendapatkan musibah ia bersabar maka hal itupun baik untuknya. (HR. Muslim).

Akhlak merupakan produk terakhir dari sebuah keimanan pada setiap manusia. Proses keimanan yang panjang untuk membentuk sebuah akhlak muslim sejati adalah sebuah kewajaran, karena keimanan tidak diperoleh dengan mudah. Dimulai dengan pertanyaan tentang Sang Pencipta hingga ciptaan-Nya, manusia akan menggunakan akal untuk berusaha menjawabnya. Namun, jika hanya menggunakan itu (akalnya-red) manusia tentulah akan menemukan kebuntuan yang berujung pada ketidakpercayaan pada Sang Penciptanya.

Olehnya itu, akal manusia perlu dibekali dengan tuntunan untuk mengawal kepalanya memikirkan Penciptanya. Itulah sebabnya Quran diturunkan sebagai pengawal akal manusia. Dan untuk itu, mengimani Pencipta Quran, Pembawa Quran dan semua berita dalam Quran hukumnya wajib. Inilah makna bahwa Rukun Iman adalah bagian terpenting dari proses keimanan seorang muslim.

(diambil dari berbagai sumber)

Malam itu, seperti biasa Makassar dipenuhi sesak oleh  kepulan asap kendaraan, penyebab rusaknya paru-paru bumi dan manusia. Disinari cahaya lampu mobil dan ditemani teriakkan lagu klaksonnya, langkahku yang sejajar trotoar menuju sebuah tempat penyambung hidup…

tempat itu tak bernama, hanya terpampang tulisan Coto : Rp 5.000.
Yah, warung Coto kesukaan yang berada dekat kostku itu, bagiku adalah penyambung hidupku yang lapar…

Terbaring disebuah kamar, aku terjaga karna terkejut oleh suara dentuman besar yang nampak membuat dinding kamarku Retak…
tak ada yang kukenal dalam kamar ini, semua asing. Ku pun lari keluar melihat apa yang terjadi.

Astagfirullah…
tak ada bangunan yang berdiri kokoh, semua nampak miring dan roboh. Dibawahnya penuh taburan Mayat.
Seruan Takbir menggelegar…
Orang-orang meratapi mayat yang berhamburan…

Apa yang terjadi..???
Dimana Aku..?? kucoba bertanya pada Pemuda berjenggot,,, dia melihatku aneh dan mengucapkan bahasa yang tak kumengerti… “Ma fahimtu madza taqul”, jawabnya.

Hingga seorang Laki2 berompi menyeretku berlari bersamanya,,, “cepat, tak ada tempat yang aman disini, disini bukan tugasmu…” jawabnya sambil berlari tanpa menolehku. Dibelakang rompi kremnya tertulis ‘TEAM MEDIC INDONESIA’ dan sebuah tulisan “Save PALESTINE” dibawahnya…

kupercepat lariku mengejarnya…

Sampailah kami di sebuah gedung yang nampak seperti rumahsakit,, Cukup banyak tulisan yang terpampang dengan besarnya, tapi tak ada satupun yang dapat kumengerti. Semua tulisan itu nampak seperti Tulisan dalam Quran tetapi bedanya tak punya tanda baca satupun…

Penuh tanya dalam hati, tapi satupun tak terucap karena tak ada waktu,, semua berpacu melawan waktu u/ menolong korban reruntuhan yang bukan disebabkan bencana alam akibat rusaknya lingkungan alam, melainkan rusaknya perilaku anak adam karena salah memilih Aqidah..

Sambil mendorong sebuah kereta pasien aku mulai menyadari dimana aku… Perlahan kumengerti tempat ini adalah sebuah Rumahsakit di Gaza, daerah ekspansi kaum Zionis yang berbatasan dengan Mesir, yang hari ini mulai dibombardir seiring berlalunya perjanjian genjatan senjata selam enam bulan.

Contoh Pelanggaran HAM yang nyata dan didepan mata, tetapi dewan HAM Perserikatan Bangsa Bangsa seolah membutakan matanya dan menganggapnya mimpi…

Siapakah TERORIS sebenarnya???

Di kiri dan kananku penuh dengan ratapan tangisan hati dan takbir…

Tangisan kepedihan terkena peluru, tangisan kepedihan hati ditinggal orang-orang yang dicintai, tangisan balita yang bukan karena tak dapat susu atau kurang gizi tapi tangisan luapan sakit terkena serpihan bom,  tangisan seorang Ummi yang diiringi doa pada jasad anaknya yang tak lagi bernyawa, tangisan seorang laki-laki kekar dengan bibir beristigafar kepada sauadaranya tercinta, bahkan tangisan yang tak tak jelas tertuju pada siapa-siapa…

Batinku pun teriris melihat semua begitu nyata didepan mata…

Anehnya… sosok Lelaki Muda yang berdiri disudut taman rumahsakit, terlihat tertawa dengan lepasnya, namun matanya basah dengan airmata…

“Jiwanya tergoncang,,, Dia kehilangan semua keluaraganya,,, tak ada yang tersisa satupun,,, ayah dan ibunya, kakak-adiknya, semua keluarganya tewas dalam reruntuhan rumahnya… sama dengan kita, yang nantinya juga akan tak punya ayah, ibu dan saudara.. hanya saja, milik kita diambil-Nya satu persatu, tidak sekaligus seperti dia,,, dan kalau itu terjadi padaku , akupun bisa gila…” jelas dokter Ibrahim padaku…

Akupun terjaga kedua kalinya dari tidurku… tetapi kali ini aku mengenal semua isi kamarnya,, semuanya adalah isi kamar kostku, disampingnya terdapat sebungkus coto yang belum terbuka… juga kali ini aku terjaga bukan karena suara dentuman, melainkan sebuah laporan berita di TVone yang mengabarkan bahwa sebuah rumahsakit di Gaza juga dileadakkan oleh israel Laknatullah…

Hello world!

Apa kabar dunia yang semakin dan tetap akan PANAS. Juga anda yang sudah menyempatkan mampir dirumah saya yang  sederhana ini, I said “Thanks and How are You?, I hope U are fine, Ok”… HHmmm, mulai dari mana ya? saya bingung  sebagai yang punya ‘rumah’ untuk memulai pembicaraan dengan Anda atau apapun bentuknya, sekedar untuk membuat Anda nyaman berada di dalam ‘rumah’ ini, mungkin Anda punya saran ??

Oke,, daripada Anda berlama-lama memikirkannya  yang akan membuat anda ‘jenuh bertamu’, saya sebagai ‘Tuan Rumah’ mempersilahkan dengan senang hati, untuk Anda memperkenalkan diri Anda (Who Am I) yang kemudian akan saya coba untuk membalasnya,,, dan selanjutnya terserah Anda, perlu diingat bahwa dalam ‘rumah’ ini  terdapat ‘kebebasan‘ melakukan apa saja yang tentunya bukan kebebasan yang merugikan sebagian pihak sebagaimana yang ditafsir oleh mereka yang memanfatkan kata Bebas untuk hal-hal yang Negatif, saya harap anda mengerti. Hmm, satu lagi yang perlu diingatkan,, yang empunya ‘rumah’ ini bukan seorang AHLI disebuah bidang tertentu, melainkan seseorang yang baru mau belajar menuju kesana, jadi tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Anda, saya mengajak Anda untuk saling berbagi yang meski pembagiannya tidak sama rata,,,

Terakhi dari saya, Selamat MENIKMATI dan BERBAGI,,,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.