Catatan,,, kata yang terlintas tidak asing saat kita mendengarnya. Yah,, rutinitas yang sebagian mahasiswa menganggap itu adalah ritual si kutu buku yang wajib dilaksanakan sebelum, saat dan usai perkuliahan, ato mnurut sebagian lagi adalah kerjaan si yang tak punya muka sehingga didepan dosen selalalu cari muka dengan mencatat biar dikatakan rajin, ato juga dianggap oleh sebagian orang sebagai kerjaan si bodoh yang lambat dan tak mampu menyerap seketika dan menyimpan lebih lama penjelasan dari orang lain..
Apapun tanggapannya dan penilaian kita tentang ”Catatan” satu yang pasti kita semua melakukannya sejak lahir hingga saat kita tidur dalam tanah kelak. Namun, tanpa disadari dari sepanjang detik yang berdetak, tidak sedikit dari kita yang kehilangan catatan penting karena kita lupa menyimpanya atau mungkin kita lupa mencatatnya. Dan hal ini berarti kita telah menghilangkan sebuah sejarah yang harusnya mampu menjadi pelajaran bagi kehidupan kita mendatang juga bagi generasi yang akan datang.
Sehari sebelumnya, berita menyampaikan sebuah berita basi negeri ini yaitu tentang korupsi yang lagi lagi pelakunya berhasil kabur keluar negeri. Penegak Hukum melakukan lagi kesalahan yang sama, gagal mencekal para koruptor ke negeri yang tak memiliki perjanjian ekstradisi. Penegak hukum kehilangan catatan kriminal dan catatan strategi untuk mencegah pelaku koruptor yang sebelumnya telah menapaki hal yang sama atau mungkin catatan itu tak pernah ada alias lupa dicatatat atawa bisa jadi juga hal itu dibuat lupa oleh penegak hukum karna uang dan kekuasaan itu membuat mereka melupakan segalanya termasuk kata Tuhan dihatinya. Ah, kita anggap saja itu lupa dicatat, kita berprasangka baiklah, walapun itu jelas jelas buruk, dan semoga kali ini tak lupa dicatat lagi. .
Tiga hari sebelumnya, email baru yang dibuat Uli, tak bisa dibukanya. Dia lupa rangkaian huruf namanya yang katanya sempat di “improve” untuk kepentingan gaya tulis. Intinya, dia tak punya catatan tentang itu, entah karna dia lupa mencatatnya atau memang enggan mencatat itu.
lima hari sebelumnya, aku benar benar berhenti berharap kembalinya dompetku, setelah ingat dalam dompetku yang hilang tak ada satupun nomor telpon yang bisa dihubungi oleh penemunya untuk mencari tahu pemiliknya. Aku lupa mencatat itu dan memasukannya dalam dompet.
Entahlah, kita akan memaknai “catatan” dengan contoh yang seperti apapun itu, tapi jelasnya karna tak ada yang abadi selain dari sebuah catatan yang mampu menceritakan kembali kejadian ratusan tahun silam karna mulut kita terkatup oleh usia dan catatan yang mampu mengenang kisah indah dan pilu karna memori kepala kita terbatas kata lupa.
